Sekilas Info
Selamat datang di Website Resmi Desa Sriwidadi, Kecamatan Mantangai, Kabupaten Kapuas Provinsi Kalimantan Tengah

Artikel & Berita

OPINI PUBLIK

Novelet Matahari di Balik Cakrawala

Lampiran File

Matahari_di_Balik_Cakrawala 

MATAHARI DI BALIK CAKRAWALA

Luka, Harapan, dan Cinta yang Terlambat Disadari

 

Oleh: Slamet Riyadi

Banjarmasin, gerimis mulai turun ketika malam merayap masuk ke setiap celah kota. Lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu, memantulkan cahaya temaram di aspal yang mulai basah. Di sebuah kafe pinggir jalan, sekelompok anak muda berkumpul. Tawa dan canda bercampur dengan suara musik dari dalam. Namun di tengah keramaian itu, ada satu sorot mata yang tak bisa diam. Mata milik Arga. Matanya terus menatap ke luar jendela, ke arah jalan raya yang mulai sepi. Di sana, di aspal hitam yang mengilap karena air hujan, adalah satu-satunya tempat di mana ia merasa hidup.

Malam di kota Banjarmasin diguyur hujan deras. Bukan gerimis biasa, tetapi hujan yang turun dengan derasnya, seolah langit sedang menumpahkan segala isinya ke bumi. Butir-butir air menghantam kaca helm para pengendara, menciptakan simfoni malam yang hanya dipahami oleh mereka yang masih nekat melaju.

Lampu kendaraan memantul di jalan basah, menciptakan ilusi cahaya yang berkejaran. Genangan air di pinggir jalan pecah berkali-kali oleh derap ban motor yang melintas. Suara mesin motor meraung di tengah lalu lintas yang mulai sepi, seakan-akan malam itu hanya milik mereka yang punya nyali untuk menaklukkan aspal.

Di dalam kafe sederhana bernama "Senja Kopi", Arga Pratama duduk di sudut ruangan. Rambut gondrongnya diikat asal ke belakang, beberapa helai jatuh menutupi kening. Matanya, hitam tajam seperti malam tanpa bintang, terus menatap ke luar jendela. Di hadapannya, secangkir kopi hitam sudah dingin tak tersentuh.

Di seberang meja, Rian mengaduk-aduk es kopi susunya dengan malas. Ia memandang Arga yang sejak tadi seperti patung.

"Lo dari tadi melamun aja, Ga," tegur Rian, sahabatnya sejak SMA. Rian berbadan kurus dengan kacamata tebal, kontras dengan Arga yang tegap dan atletis. "Kopi lo udah dingin, tuh. Gue pesenin baru?"

Arga tidak menjawab. Jari-jarinya mengetuk-ngetuk meja tidak sabar. Tok tok tok... tok tok tok... Irama yang sama berulang-ulang.

Dani, mekanik geng Shadow Riders yang duduk di samping Rian, menyeringai sambil menyedot es teh manisnya keras-keras. "Udah tau tuh tanda-tandanya. Arga lagi pengen ngebut. Jari-jari ngetuk meja kayak mesin tik aja."

Boni, anggota termuda geng itu, menimpali dengan semangat khas anak baru. Matanya membelalak. "Gila, hujan gini mau balapan? Jalanan licin, bos! Lo lihat di luar, udah kayak sungai! Gue aja ke sini tadi nyaris selip tiga kali!"

Arga akhirnya menoleh. Bibirnya membentuk senyum tipis yang entah mengapa membuat Boni merinding. "Justru karena licin, baru seru. Lo nggak ngerti, Bon. Di jalan kering, semua orang bisa kencang. Di jalan basah, baru keluar siapa yang jago."

Rian menghela napas panjang. Ia sudah terlalu sering melihat sorot mata itu. Sorot mata yang mengatakan bahwa Arga tidak akan bisa dihentikan malam ini. Tapi sebagai sahabat, ia harus mencoba.

"Arga, please." Rian melepas kacamatanya, menggosok pangkal hidungnya yang lecet karena kacamata. "Seminggu lalu lo hampir jatuh di tikungan Jalan Pangeran Antasari. Gue lihat sendiri ban belakang lo oleng kayak ular kepanasan. Lo selamat cuma karena hoki."

"Setiap kali hampir jatuh, aku belajar sesuatu," jawab Arga dingin. Ia mengambil kopinya, menyesap walau sudah dingin. "Besok lusa ada balapan resmi dengan geng Kalimantan Selatan. Lo tahu sendiri, mereka bawa pembalap andalan dari Banjarbaru. Aku harus tahu batas motorku di jalanan basah."

Dani mengangguk mengerti. Sebagai mekanik, ia tahu persis bahwa motor Arga, Yamaha R6 hitam dengan stripping merah, telah dimodifikasi habis-habisan. Tangki bahan bakar dibikin lebih besar, suspensi belakang diganti Ohlins, ban menggunakan tipe medium-compound yang cocok untuk jalan basah. Namun sebagai teman, Dani juga khawatir. Ia ingat betapa banyak pembalap yang berakhir di rumah sakit karena percaya diri berlebihan.

"Arga, dengerin Rian deh." Dani meletakkan gelas es tehnya. "Kita bisa cari lintasan kering besok pagi. Gue tahu tempat di belakang pabrik karet, aspalnya baru diaspal, kering, lengang. Kita coba di sana aja."

"Besok pagi aku ada urusan," potong Arga singkat.

"Urusan apa?" Rian curiga. "Jangan bilang lo mau ketemu Dinda?"

Arga diam. Itu sudah jawaban.

"Arga, lo udah janji sama Dinda mau nemenin dia ke pasar pagi," Rian mengingatkan. "Lo bilang sendiri, lo mau berubah buat dia."

"Berubah bukan berarti berhenti balap," Arga berdiri, meraih jaket kulit hitam yang menggantung di sandaran kursi. "Gue cuma mau putaran cepat, balik sejam lagi. Masih cukup buat nemenin Dinda ke pasar jam enam."

Rian ikut berdiri, hampir menjatuhkan kursi. "Gue ikut."

Arga menatapnya. "Lo takut gue kenapa-napa?"

"Bukan," Rian menggeleng. "Tapi kalo lo kenapa-napa, siapa yang nolongin? Lo tahu sendiri, handphone lo sinyalnya suka lemot di jalan lingkar."

Arga tertawa. Tawanya renyah, namun ada nada sombong di dalamnya. "Gue nggak akan kenapa-napa. Lo stay di sini, jagain Dani dan Boni. Jangan biarkan mereka pulang mabuk-mabukan."

Dani protes. "Heh, gue nggak minum!"

"Es teh manis lima gelas udah termasuk mabuk buat lo," ledek Arga sambil memakai jaket.

Boni ikut berdiri. "Bos, gue ikut juga!"

"Lo nggak bawa motor, Bon. Lo nebeng Dani."

"Gue pinjam motor Rian aja!"

Rian menggeleng. "Bon, motor gue lagi di bengkel. Lo lupa? Habis gue tabrak parkiran kampus minggu lalu."

Boni merengut. "Berarti gue cuma bisa nonton dari sini?"

"Tonton aja dari sini," Arga menepuk puncak kepala Boni. "Lo masih kecil, Bon. Belum waktunya lo lihat gue ngebut."

Boni menggerutu. "Gue udah 19 tahun, bos!"

"Tetep aja kecil buat gue," Arga melenggang keluar.

Di luar kafe, hujan semakin deras. Arga berdiri di samping motor sport hitamnya, menjentikkan puntung rokok ke genangan air. Asap rokok terakhir membumbung sebelum ditelan rintik hujan. Ia memandangi bayangannya sendiri di kaca spion. Wajah tampan dengan rahang tegas, hidung mancung, dan alis tebal. Namun yang paling menonjol adalah matanya, mata yang selalu haus akan adrenalin.

Ia merogoh saku jaket, mengeluarkan handphone. Layar menyala, menampilkan foto dirinya berdua dengan Dinda di pantai. Dinda tersenyum lebar, rambutnya diterbangkan angin laut. Foto itu diambil dua bulan lalu, saat mereka liburan bersama.

"Gue janji bakal jadi lebih baik buat lo, Din," bisiknya dalam hati.

"Arga!"

Suara itu membuatnya menoleh. Seorang gadis berlari kecil dari arah parkiran, mengenakan jas hujan warna merah muda. Rambut panjangnya basah di ujung, wajahnya merah padam antara kedinginan dan marah. Itu Dinda, pacarnya.

Arga terkejut. Handphone hampir jatuh. "Dinda? Lo kok ke sini?"

Dinda berhenti di depannya, napas tersengal. Air hujan mengalir di wajahnya, membuat maskara sedikit luntur. "Gue telepon lo berkali-kali nggak diangkat!"

Arga merogoh saku jaket, mengeluarkan ponsel. Empat panggilan tidak terjawab dari Dinda. "Maaf, gue lagi ngumpul sama yang lain. Suasana kafe rame, gue nggak denger."

"Lo nggak denger atau sengaja nggak angkat?" Dinda menatap motor Arga, lalu jaket kulit yang sudah dipakai. Matanya melebar. "Lo mau balapan lagi? Dalam hujan begini? Arga, lo gila?!"

"Ini coba-coba jalur, Sayang. Bukan balapan."

"Bohong!" Dinda meninggikan suara hingga beberapa pengunjung kafe menoleh. "Gue kenal lo, Arga. Ini selalu sama. Lo bilang coba-coba, ujung-ujungnya gaspol sampe 180 kpj! Jangan bohongin gue!"

Arga menghela napas. Ia meraih tangan Dinda, menggenggamnya lembut. Tangan Dinda dingin dan basah. "Dinda, denger. Besok lusa ada pertandingan besar. Shadow Riders harus menang. Lo ngerti kan, ini geng gue, ini harga diri gue."

"Harga diri?" Dinda menarik tangannya kasar. "Gue nggak peduli sama harga diri lo, Arga! Gue cuma peduli lo pulang utuh! Setiap malam lo ngebut, gue nggak bisa tidur. Setiap gue dengar suara ambulans, jantung gue berhenti. Lo tahu itu?"

Arga terdiam. Ia melihat air mata Dinda bercampur air hujan.

"Gue cuma ngerti satu hal," Dinda melanjutkan, suaranya bergetar. "Gue takut kehilangan lo. Tiap hari, tiap jam, tiap detik, gue takut. Dan lo di sini, siap-siap mau bunuh diri di jalan basah."

Untuk sesaat, ada keraguan di mata Arga. Ia memandang Dinda, gadis yang sudah setahun ini bersamanya. Dinda berbeda dari gadis-gadis sebelumnya. Ia tidak tergila-gila pada ketenaran Arga. Ia tidak suka diajak nongkrong di bengkel. Ia tidak pernah minta diantar balapan. Ia tulus. Dan ketulusan itu yang membuat Arga bingung harus bagaimana.

"Gue janji, habis pertandingan besok lusa, gue kurangi balapan," kata Arga.

Dinda tertawa pahit. Tawanya getir di tengah deras hujan. "Janji yang sama udah lo ucapin tiga kali. Pertama pas lo mulai deketin gue. Kedua pas ulang tahun gue. Ketiga pas lo hampir jatuh dua bulan lalu. Sekarang mau keempat?"

"Ini beneran, Din."

"Arga—"

"Dinda," potong Arga tegas. "Pulang sana. Hujan gini lo bisa sakit."

Dinda menunduk. Bahunya bergetar. "Lo lebih milih motor lo daripada gue, ya?"

Arga tidak menjawab. Diamnya adalah jawaban.

Dinda mengangkat kepala. Matanya merah, tapi tidak ada air mata lagi. Mungkin sudah habis, atau mungkin sudah menyerah.

"Aku pulang," Dinda berbalik. "Hati-hati, Arga. Atau jangan. Terserah lo."

Ia pergi, langkahnya tergesa-gesa di tengah hujan. Jas hujan merah mudanya cepat menghilang di balik gemerlap lampu kota.

Arga terpaku di tempat. Hatinya terasa diremas sesuatu. Tapi egonya terlalu besar untuk mengaku kalah.

Rian, Dani, dan Boni keluar dari kafe tepat saat Dinda pergi. Mereka melihat Arga yang termenung, jaketnya sudah basah.

"Lo nggak ngikutin Dinda?" tanya Rian.

Arga menggeleng. Ia mengambil helm dari jok motor, mengenakannya perlahan.

"Arga, lo dengar gue ngomong?" Rian meraih lengan Arga. "Kejar dia. Jelaskan. Jangan biarkan dia pergi dengan hati hancur."

"Biar," suara Arga datar dari dalam helm. "Dia perlu waktu sendiri."

"Atau lo yang perlu waktu sendiri buat mikir?" Dani menambahi.

Arga menyalakan mesin motornya. Yamaha R6 itu mengaum seperti singa lapar, menggetarkan udara malam.

"Ayo," katanya singkat.

Dani dan Boni segera mengambil motor mereka. Rian menghela napas panjang, lalu naik ke boncengan Dani.

Tiga motor melesat meninggalkan kafe, menuju jalan lingkar yang gelap dan basah.

Jalan Ahmad Yani yang biasanya ramai, malam itu lengang. Hujan telah mengusir para pedagang kaki lima dan pejalan kaki. Yang tersisa hanyalah genangan air dan pantulan lampu kota yang gemetar di permukaan aspal basah.

Arga memacu motornya di jalur kanan. Spidometer menunjukkan angka 120 kpj, lalu 140, lalu 160. Angin malam menerpa tubuhnya, menerabas jaket kulit, membuat tulang-tulangnya terasa dingin. Namun ia justru merasa hidup. Inilah momen-momen yang membuatnya lupa pada semua masalah: pada Dinda yang kecewa, pada ibu yang terus mengomel, pada masa depan yang tak pernah ia pikirkan.

Di belakangnya, Rian, Dani, dan Boni mengikuti dengan jarak aman. Mereka sudah terbiasa dengan gaya berkendara Arga yang agresif. Di tikungan, Arga tak pernah mengurangi kecepatan. Di jalan lurus, ia selalu menarik gas sampai batas maksimal.

"Arga ngebut banget malam ini," kata Boni melalui interkom helm. Suaranya setengah berteriak mengalahkan deru angin.

"Biarkan. Lagi kesel sama Dinda kali," sahut Dani.

"Atau lagi pengen mati," gumam Rian pelan.

Dani menegor. "Rian! Jangan ngomong gitu!"

"Gue cuma bilang fakta. Lo lihat speedometer dia? Udah 180 di jalan basah. Itu gila."

Boni ikut bicara. "Gue takut, Dan. Kalau bos kenapa-napa, gimana?"

"Jangan takut. Kita jaga jarak aman, siap-siap kalau ada apa-apa."

Rian diam. Fokusnya tertuju pada lampu rem motor Arga yang mulai menikung ke arah jalan lingkar. Di jalan lingkar yang lebih sepi, biasanya Arga akan semakin meningkatkan kecepatan.

Dan benar saja. Begitu memasuki jalan lingkar yang lurus panjang, Arga membuka gas lebih dalam. 180 kpj. 190. 200. Angka itu absurd untuk jalanan basah, namun Arga tidak peduli. Ia sedang menantang maut, dan malam ini ia merasa menang.

"Astaga, 200!" teriak Boni. "Dan, lo lihat itu?"

"Gue lihat. Gue lihat."

Namun maut tidak pernah kalah.

Dari persimpangan kecil yang tak terlihat karena tertutup rimbun pohon randu, sebuah mobil tua warna hijau keluar pelan. Pengemudinya, seorang kakek berusia 70 tahun, sedang mencari alamat anaknya. Kaca mobilnya berembun karena hujan, wipernya sudah aus hampir tidak berguna. Dalam hujan deras dan minimnya penerangan, ia sama sekali tidak melihat motor yang melaju kencang.

Arga melihat mobil itu ketika jarak hanya tersisa 50 meter.

Matanya membelalak. Pupilnya mengecil. Jantungnya berhenti berdetak sejenak.

Rem.

Refleksnya bekerja sempurna. Tuas rem depan ia tarik bertahap, tidak sekaligus agar ban tidak terkunci. Rem belakang ia injak kuat. Namun aspal basah tidak memberikan cengkeraman. Ban belakang terkunci, motor mulai oleng ke kiri.

Arga berjuang mati-matian mengendalikan setang. Lututnya mencengkeram tangki bensin, tubuhnya merendah. Ia tahu, jika berhasil melewati mobil itu, ia selamat. Jika tidak...

Ban depan kehilangan traksi.

Motor terpental ke kanan, lalu ke kiri, lalu terguling. Arga terlempar dari jok, tubuhnya melayang di udara selama sepersekian detik. Dalam momen lambat itu, ia melihat langit kelabu, melihat rintik hujan yang seolah membeku, melihat lampu mobil yang semakin dekat.

Lalu—BRAK!

Tubuhnya menghantam aspal dengan kecepatan 180 kpj.

Benturan itu terdengar sampai puluhan meter. Suara tulang bertemu aspal, suara helm berderak, suara motor yang menyeret dirinya sendiri di jalan, menciptakan percikan api di tengah genangan air.

Rian berteriak sekencang-kencangnya. "ARGAAA!"

Ia, Dani, dan Boni mengerem mendadak. Ban motor mereka selip, hampir jatuh. Mereka berhenti di pinggir jalan, lalu berlari sekencang mungkin ke arah Arga yang terbaring di tengah jalan.

Di bawah guyuran hujan deras, Arga terbaring diam. Tubuhnya dalam posisi tidak wajar, kaki kanan tertekuk ke samping, sesuatu yang mustahil untuk sendi manusia. Genangan air di sekitarnya mulai bercampur dengan warna merah pekat yang cepat meluas.

Rian berlutut di sampingnya, menangis. Tangannya gemetar menyentuh bahu Arga. "Arga! Arga, lo denger gue?! ARGA!"

Arga ingin menjawab, namun suaranya tak keluar. Matanya setengah terbuka, menatap langit kelabu yang tak terlihat jelas. Air hujan jatuh di wajahnya, namun ia tidak merasakannya lagi. Yang ia rasakan hanyalah rasa sakit yang luar biasa di kaki kanannya, sakit yang bahkan tak bisa ia gambarkan dengan kata-kata.

Ia merasakan tangannya digenggam Rian. Genggaman hangat di tengah dinginnya malam.

"Arga, jangan mati, lo denger?! Jangan mati!" Rian terisak.

Dani sudah menelepon ambulans, suaranya bergetar saat memberi lokasi. Boni menangani mobil tua yang kini berhenti di pinggir jalan. Pengemudinya, seorang kakek renta, keluar dengan tubuh gemetar. Ia melihat pemuda yang tergeletak di jalan, lalu jatuh pingsan di pinggir jalan.

Arga ingin tersenyum. Melihat tingkah teman-temannya yang panik, rasanya lucu. Tapi ia tak mampu.

Sebelum gelap menyelimuti pandangannya sepenuhnya, satu pikiran terakhir melintas di benaknya.

"Dinda... Ibu... maafkan aku..."

 

Rumah sakit selalu memiliki aroma yang khas. Bukan hanya bau obat dan alkohol, tetapi juga bau kesedihan, harapan, dan kadang-kadang, keputusasaan. Di ruang rawat inap kelas dua RSUD Ulin Banjarmasin, seorang pemuda terbaring kaku di atas ranjang. Tubuhnya dipenuhi perban. Kaki kanannya diangkat dengan alat traksi, tergantung tak bergerak seperti dahan patah yang tak bisa lagi menopang beban. Wajahnya pucat pasi, dengan lebam biru di pelipis dan dagu. Itulah Arga. Sosok yang dulu dikenal sebagai raja jalanan, kini hanya pasien biasa yang tak berdaya. Di sampingnya, ibunya tak berhenti menangis.

Tiga hari telah berlalu sejak malam nahas itu.

Atau mungkin empat. Atau lima. Arga tak tahu. Yang ia tahu, ketika membuka mata, semua terasa asing.

Langit-langit putih. Lampu neon yang berdengung pelan. Bau khas rumah sakit menusuk hidungnya, campuran alkohol, obat-obatan, dan setangkai bunga sedap malam di meja samping yang entah siapa yang membawa.

Arga mencoba bergerak. Rasa sakit langsung menusuk dari kaki kanan hingga ke ubun-ubun. Sakit yang luar biasa, seperti ada ribuan jarum yang menusuk sumsum tulangnya. Arga mendesis keras, menahan rasa sakit yang tak tertahankan.

"Arga? Arga, Nak, kamu sadar?"

Suara itu dikenalnya. Suara yang selalu menenangkannya sejak kecil. Ibu Sri, ibunya.

Arga menoleh perlahan, lehernya terasa kaku. Wajah ibunya sembab, mata merah karena menangis. Rambut yang biasanya disanggul rapi kini kusut dan beberapa helai putih tampak lebih banyak dari yang ia ingat. Tanda ia tidak tidur berhari-hari.

"Bu..." suara Arga serak, hampir tidak terdengar. Tenggorokannya kering seperti gurun pasir.

Ibu Sri langsung memeluknya, menangis tersedu-sedu. Tangis seorang ibu yang melihat anaknya terbaring, namun tak bisa berbuat apa-apa selain berdoa.

"Arga, Nak, kamu akhirnya sadar juga." Suara Ibu Sri terputus-putus. "Ibu takut sekali, Nak. Ibu takut kehilangan kamu. Tiga hari, Nak. Tiga hari kamu nggak sadar-sadar. Ibu cuma bisa duduk di sini, pegang tangan kamu, berdoa."

Arga ingin mengangkat tangan untuk membalas pelukan ibunya, namun tangannya terasa berat. Ia baru sadar bahwa tubuhnya dipenuhi perban, infus di mana-mana, dan ada selang kecil di hidungnya.

"Bu, saya kenapa?" tanyanya lirih.

Ibu Sri tidak menjawab. Ia malah menangis lebih keras.

"Bu?" Arga mulai panik. "Bu, jawab. Saya kenapa? Kaki saya kenapa?"

Pintu ruangan terbuka. Seorang pria paruh baya dengan kacamata tebal dan jas putih yang rapi masuk. Dokter Haryanto Sp.OT, dokter bedah ortopedi yang menangani Arga. Di belakangnya, dua orang perawat dengan ekspresi profesional.

"Selamat pagi, Arga. Saya Dokter Haryanto." Suaranya tenang, berwibawa. Ia duduk di kursi samping ranjang, membuka map tebal. "Bagaimana perasaannya?"

"Kaki saya sakit sekali, Dok." Arga jujur. "Sakitnya... sakitnya nggak ketulungan."

Dokter Haryanto mengangguk. Wajahnya serius. "Arga, saya akan jelaskan kondisi Anda sekarang. Tolong dengarkan baik-baik. Ini penting."

Arga menelan ludah. Ia melihat ke arah ibunya yang menggenggam tangannya erat. Ibu Sri menangis, namun berusaha tegar.

"Saya mendengarkan, Dok."

Dokter Haryanto menarik napas panjang. "Anda mengalami kecelakaan lalu lintas tiga hari lalu. Ketika dibawa ke IGD, Anda dalam kondisi tidak sadar dengan patah tulang terbuka di kaki kanan. Ada tiga titik patah di tulang paha Anda, satu di tulang kering, dan retak di tempurung lutut. Anda juga mengalami gegar otak ringan dan memar di beberapa organ dalam."

Arga diam. Ia mencoba mencerna informasi itu.

"Kami sudah melakukan operasi darurat selama lima jam untuk memasang pen di beberapa titik. Operasinya sukses. Tidak ada infeksi. Tapi..."

"Tapi apa, Dok?" potong Arga cepat. Jantungnya berdebar kencang.

Dokter Haryanto menatap Arga. Matanya tajam namun penuh empati. "Patah tulangnya sangat parah, Arga. Saraf-saraf di kaki kanan Anda juga mengalami kerusakan. Kami sudah melakukan yang terbaik, namun..."

Dokter berhenti sejenak. Detik-detik terasa seperti jam di ruangan sunyi itu.

"Kemungkinan besar Anda akan mengalami cacat permanen."

Ruangan mendadak hening. Suara detak monitor jantung terdengar jelas. Tut... tut... tut... Irama yang tadinya biasa, kini terasa seperti genderang perang.

Ibu Sri menutup mulutnya, menahan isak tangis. Air matanya mengalir deras.

Arga merasa dunia berhenti berputar. Kata-kata dokter bergema di kepalanya, berulang-ulang seperti kaset rusak.

Cacat permanen... cacat permanen... cacat permanen...

"Apa maksud Bapak?" tanya Arga dengan suara bergetar. Ia mencoba duduk, namun perawat segera menahannya. "Saya tidak bisa balapan lagi?"

Dokter Haryanto menggeleng pelan. "Arga, balapan adalah hal terjauh dari pikiran Anda sekarang. Yang penting adalah Anda bisa berjalan kembali."

"Jadi saya bisa berjalan?"

"Berjalan mungkin, tapi tidak normal seperti dulu lagi." Dokter Haryanto menjelaskan dengan hati-hati. "Anda akan membutuhkan bantuan tongkat untuk waktu yang lama. Mungkin selamanya. Fisioterapi bisa membantu, tapi untuk kembali seperti semula... kemungkinannya kecil."

Arga menatap langit-langit kamar. Air mata mulai mengalir di pelipisnya, jatuh ke bantal putih. Ia tidak menangis keras, hanya air mata yang mengalir tanpa suara.

"Dok, saya akan jadi pemain sepak bola," bisiknya. Matanya kosong menatap langit-langit. "Waktu SD, saya selalu jadi striker. Cetak gol paling banyak. Guru olahraga bilang saya berbakat."

Dokter Haryanto diam.

"Dok, saya juga akan jadi pembalap profesional." Suara Arga semakin pelan. "Saya sudah menang puluhan kali. Saya dapat tawaran dari tim balap Samarinda. Saya... saya punya mimpi, Dok."

Dokter Haryanto menepuk bahu Arga lembut. "Maaf, Nak. Kadang hidup tidak sesuai rencana kita."

Ia berdiri, memberi isyarat pada perawat untuk keluar. "Saya akan minta perawat rutin cek kondisi Anda. Istirahat yang cukup, Arga."

Setelah dokter pergi, Ibu Sri memeluk Arga erat-erat. Kali ini, Arga tidak bisa menahan tangisnya. Pemuda yang selalu sombong, selalu merasa paling kuat, menangis seperti anak kecil di pelukan ibunya. Tangisnya pecah, keras, penuh kepedihan.

"Bu... saya sudah hancur," isaknya di antara tangis. "Saya nggak punya masa depan lagi. Saya nggak bisa jadi apa-apa. Saya cuma sampah sekarang."

Ibu Sri mengusap rambut Arga lembut. "Jangan bicara begitu, Nak. Ibu akan selalu di samping kamu. Apa pun yang terjadi."

"Tapi Bu—"

"Tidak ada tapi." Ibu Sri melepas pelukan, memegang wajah Arga dengan kedua tangannya. Matanya merah, tapi tatapannya tegas. "Dengar, Nak. Kamu masih hidup. Kamu masih punya ibu. Kamu masih punya otak, punya hati, punya masa depan. Cacat di kaki tidak berarti cacat di hati dan pikiran. Paham?"

Arga diam. Kata-kata ibunya hangat, namun tak mampu mencairkan es yang membeku di hatinya.

"Paham, Nak?" desak Ibu Sri.

"Pa... paham, Bu," jawab Arga terbata.

 

Malam harinya, Arga terbangun dari tidur singkat. Ruangan sunyi. Lampu utama sudah dimatikan, hanya menyisakan lampu kecil di sudut ruangan. Ibu Sri tertidur di kursi samping ranjang, tubuhnya meringkuk kedinginan tanpa selimut. Tangannya masih memegang tangan Arga.

Arga menatap ibunya. Wanita itu terlihat lebih tua dari usianya. Rambutnya mulai memutih di sana-sini, kerutan di wajah semakin dalam. Semua itu karena membesarkan Arga seorang diri setelah suaminya meninggal dunia tujuh tahun lalu. Ia jualan nasi kuning dari pagi sampai sore, kadang sampai malam, demi biaya sekolah Arga. Dan balasannya? Arga pulang dalam keadaan hancur.

"Maafkan saya, Bu," bisik Arga. "Saya sudah buat Ibu malu. Saya sudah buang semua harapan Ibu."

Pintu ruangan terbuka perlahan. Rian masuk, berjalan jinjit agar tidak berisik. Wajahnya kusut, matanya sembab dan berkantung hitam. Ia baru beberapa jam lalu pulang ke rumah untuk mandi dan ganti baju, lalu balik lagi.

"Arga?" bisik Rian.

Arga menoleh. "Rian."

Rian segera mendekat. Ia duduk di pinggir ranjang, tepat di samping Arga. "Lo gila, Ga. Lo bikin gue takut setengah mati. Lo tahu nggak, pas kejadian itu, gue kira lo udah mati. Lo nggak bergerak, darah di mana-mana. Gue... gue nggak bisa ngapa-ngapain selain nangis."

Arga tersenyum getir. "Maaf."

"Jangan maaf-maaf." Rian menggenggam tangan Arga. "Yang penting lo selamat. Yang penting lo hidup."

Mereka diam sejenak. Suara napas Ibu Sri yang tidur terdengar pelan.

"Gue udah ngomong sama Dani dan Boni," kata Rian. "Mereka titip salam. Dani bilang, motor lo udah diamankan di bengkelnya. Boni nggak berhenti nangis sejak kejadian, bocah itu ngefans banget sama lo."

Arga tersenyum kecil. "Boni... dasar bocah."

"Polisi juga udah ngurus," lanjut Rian. "Mobil itu salah, pengemudinya lansia, nggak bisa dikejar secara hukum. Udah damai. Keluarganya minta maaf, mereka juga nggak nyangka."

"Biarkan," gumam Arga. "Dia juga nggak sengaja. Gue yang terlalu kencang."

Rian mengangguk. Lalu dengan ragu-ragu, ia berkata, "Arga... gue harus ngomong sesuatu."

Arga menatapnya. Wajah Rian serius, tidak seperti biasanya. "Apa?"

Rian menghela napas panjang. Matanya menghindar. "Dinda udah tahu."

Arga diam. Hatinya berdebar, meskipun ia tak tahu harus merasa apa.

"Dia datang ke sini dua hari lalu, pas lo masih koma." Rian bicara pelan. "Dia nangis, Ga. Nangis nggak berhenti. Gue lihat dia di lorong rumah sakit, duduk di kursi, nangis sesenggukan. Dia minta masuk, tapi nggak boleh karena lo di ICU."

Arga menelan ludah. "Terus?"

Rian menunduk. Tangannya memainkan ujung selimut. "Dia nunggu sampai besoknya. Pas lo dipindah ke ruang ini, dia minta masuk. Tapi gue liat sendiri, pas dia lihat lo... pas dia lihat kaki lo..."

"Rian, langsung aja."

Rian mengangkat kepala. "Dia bilang... dia nggak bisa."

Arga menatap Rian tajam. "Nggak bisa apa?"

"Nggak bisa jalani hubungan ini." Rian mengucapkannya berat-berat. "Dia takut, Ga. Gue lihat di matanya, dia takut. Bukan takut sama lo, tapi takut sama masa depan. Dia masih muda, dia masih kuliah, dia..."

"Dia takut punya pacar cacat," potong Arga datar.

Rian diam. Tak bisa membantah.

Untuk sesaat, Arga tidak bereaksi. Matanya kosong menatap jendela yang gelap. Lalu ia tertawa. Tawa pahit yang membuat Rian merinding. Tawa yang tidak mengandung kegembiraan sama sekali.

"Jadi dia pergi? Sebelum aku sadar, sebelum aku bisa ngomong apa-apa, dia sudah pergi?"

"Arga—"

"Tidak usah," potong Arga dingin. "Biarkan. Lagipula aku memang tidak punya apa-apa lagi. Siapa yang mau sama orang cacat?"

Rian ingin berkata sesuatu, namun bibirnya terkunci. Ia hanya bisa memeluk sahabatnya. Di pelukan itu, Arga menangis lagi.

 

Tiga minggu telah berlalu sejak kecelakaan. Arga sudah dipindahkan ke ruang rawat biasa. Kaki kanannya masih di gips, namun ia sudah bisa duduk di kursi roda. Setiap hari Ibu Sri datang, membawakan makanan kesukaannya. Rian, Dani, dan Boni bergantian menjenguk. Namun satu orang tak pernah muncul: Dinda. Hingga suatu sore, pintu ruangan terbuka dan Dinda berdiri di ambang pintu. Arga menoleh, hatinya berdebar. Namun dari sorot mata Dinda, ia tahu, tidak akan ada kabar baik.

Sore itu, Banjarmasin diguyur hujan lagi. Arga duduk di kursi roda dekat jendela, memandang rintik air yang membasahi kaca. Ia suka hujan, dulu. Hujan adalah teman balapnya. Suara rintik di helm, sensasi ban yang sedikit selip di tikungan, adrenalin yang memuncak. Namun kini hujan hanya mengingatkannya pada malam nahas itu. Pada lampu mobil hijau yang muncul tiba-tiba. Pada suara benturan. Pada gelap yang menyelimuti.

Arga menghela napas. Jari-jarinya mengetuk-ngetuk sandaran tangan kursi roda. Kebiasaan lama yang tak bisa hilang.

Pintu terbuka. Arga mengira itu suster yang akan memberinya obat. Atau Rian yang biasa datang sore-sore bawa gorengan.

Namun ketika menoleh, jantungnya berhenti sejenak.

Dinda berdiri di ambang pintu.

Rambut panjangnya basah di ujung, seperti malam itu. Gaun putihnya sedikit kusut, mungkin karena kehujanan. Di tangannya, sebuket bunga matahari, bunga kesukaan Arga. Wajahnya pucat, matanya sembab.

Mereka saling pandang. Waktu terasa berhenti.

"Akhirnya kamu datang," kata Arga pelan. Suaranya datar, tak ada nada bahagia atau marah.

Dinda masuk, menutup pintu di belakangnya. Ia berjalan perlahan mendekati Arga. Langkahnya ragu, seperti takut akan sesuatu. Bunga itu ia letakkan di meja samping, di sebelah termos air dan gelas.

"Maaf baru datang," bisiknya. Suaranya serak. "Aku... aku nggak kuat."

Arga menatapnya. Ia sudah siap dengan segala kemungkinan. Hatinya sudah mati rasa setelah tiga minggu ini.

"Duduklah."

Dinda duduk di kursi yang biasa ditempati Ibu Sri. Ia menunduk, tidak berani menatap Arga. Tangannya menggenggam ujung gaunnya erat-erat.

"Arga, aku harus bicara."

"Aku tahu."

Dinda mengangkat kepala. Matanya berkaca-kaca, siap tumpah. "Kamu tahu?"

"Rian bilang. Kamu datang dua hari lalu, pas aku masih koma." Arga menatapnya tajam. "Kamu lihat aku dalam keadaan nggak sadar, lalu kamu pergi. Dan baru sekarang kamu kembali."

Dinda terisak. Air matanya tumpah. "Aku takut, Arga. Sungguh, aku takut. Aku lihat kamu di sana, penuh perban, kaki kamu diangkat pake alat itu... kamu nggak bergerak, nggak sadar... aku pikir kamu sudah mati."

"Tapi aku tidak mati."

"Aku nggak bisa tidur semalaman." Dinda terus bicara, seperti air bah yang tak terbendung. "Aku terus kepikiran, gimana kalau kamu nggak bangun? Gimana kalau aku kehilangan kamu? Gimana kalau kali ini benar-benar terjadi?"

"Tapi aku bangun," kata Arga lagi. "Aku bangun, aku sadar, aku masih hidup."

Dinda menggeleng kuat-kuat. Air matanya berhamburan. "Kamu bangun, tapi kamu nggak sama."

Arga merasakan dadanya diremas. Sakit. Tapi ia tak menunjukkan. "Maksudmu?"

Dinda menunduk lagi. Suaranya hampir tak terdengar. "Kamu beda, Arga. Kamu... kaki kamu..."

"Kaki saya cacat," potong Arga tegas. "Kata dokter, kemungkinan besar saya nggak akan bisa jalan normal lagi. Saya akan pakai tongkat seumur hidup. Mungkin kursi roda. Itu yang mau kamu katakan?"

Dinda menangis keras. "Arga, aku cinta kamu. Tapi aku nggak siap."

"Nggak siap apa?"

Dinda menunjuk kursi roda dengan tangan gemetar. "Nggak siap hidup dengan kondisi seperti ini. Aku masih muda. Aku masih kuliah. Aku punya mimpi, punya rencana masa depan. Aku... aku nggak siap jadi perawat, Arga."

Arga tertawa. Lagi-lagi tawa pahit yang menyayat hati.

"Jadi kamu pergi karena aku cacat? Karena aku jadi beban?"

Dinda terisak lebih keras. "Bukan begitu, Arga. Jangan salahkan aku. Coba lihat dari sisiku. Aku umur 21, masih punya hidup panjang di depan. Aku—"

"Kamu takut masa depanmu hancur karena aku?" potong Arga tajam. "Kamu takut dikasihani orang karena punya pacar pincang? Kamu takut nggak bisa jalan-jalan lagi, nggak bisa ke mal, nggak bisa pamer punya cowok keren?"

Dinda tidak menjawab. Diamnya adalah jawaban.

Arga memalingkan wajah ke jendela. Hujan semakin deras. Suaranya memenuhi ruangan.

"Dinda, dengar." Suaranya serak, tapi tegas. "Aku tidak akan memaksa kamu bertahan. Aku nggak punya hak. Tapi tolong jangan bohongi dirimu sendiri. Kamu pergi bukan karena takut. Kamu pergi karena kamu malu. Malu punya pacar cacat."

Dinda terisak lebih keras. "Arga, jangan begitu—"

"Apa aku salah?" potong Arga menatapnya tajam. Matanya merah, tapi tak menangis. Sudah habis air matanya. "Coba lihat aku, Dinda. Aku sekarang apa? Pemuda pincang yang nggak bisa jalan tanpa tongkat. Masa depanku gelap. Dan kamu tahu itu. Kamu lihat aku sebagai beban, bukan sebagai orang yang kamu cintai."

Dinda berdiri. Tangannya menutup mulut, menahan isak. Air matanya tak terbendung.

"Maafkan aku, Arga." Suaranya terbata. "Maafkan aku yang lemah. Maafkan aku yang nggak sekuat yang kamu kira."

Arga menghela napas panjang. Tiba-tiba ia merasa sangat lelah. Lelah fisik, lelah mental, lelah hati.

"Pergilah, Dinda." Suaranya lirih. "Dan jangan kembali. Aku nggak mau lihat kamu lagi."

Dinda berjalan ke pintu. Setiap langkahnya terasa berat. Sebelum keluar, ia berhenti. Menoleh sekali lagi.

"Arga... semoga kamu cepat sembuh."

Pintu tertutup. Suara hujan di luar terdengar lebih jelas.

Arga menatap bunga matahari di meja. Bunga itu kuning cerah, segar, kontras dengan hatinya yang hitam kelam. Bunga kesukaannya. Dinda ingat. Tapi ingatan saja tak cukup.

Ia tertawa. Lalu menangis.

 

Malam itu, Ibu Sri menemukan Arga masih duduk di kursi roda dekat jendela. Hujan sudah reda, namun langit masih mendung. Udara dingin masuk dari celah-celah jendela.

"Nak, kamu belum tidur?" tanya Ibu Sri lembut. Ia baru kembali dari kantin rumah sakit, membeli air mineral.

Arga tidak menjawab. Pundaknya bergetar.

Ibu Sri mendekat. Ia melihat mata Arga sembab, tanda habis menangis. Di meja, ada sebuket bunga matahari yang masih segar.

"Dinda sudah datang?"

Arga mengangguk pelan.

Ibu Sri menghela napas. Ia tahu apa yang terjadi. Wanita itu sudah hidup 52 tahun, sudah melalui suami meninggal, sudah membesarkan anak seorang diri. Ia tahu tanda-tanda patah hati.

"Nak, Ibu tahu ini sakit." Ibu Sri duduk di kursi yang tadi diduduki Dinda. "Tapi percayalah, orang yang benar-benar mencintaimu tidak akan pergi saat kamu jatuh. Dia akan tetap di sini, bantu kamu bangkit."

Arga menatap ibunya dengan mata sembab. "Bu, apa saya akan sendirian selamanya? Apa nggak ada yang mau sama orang cacat seperti saya?"

Ibu Sri tersenyum. Senyum hangat yang selalu menenangkan Arga sejak kecil. Ia mengusap rambut Arga.

"Tidak, Nak. Tuhan punya rencana. Mungkin Dinda bukan orangnya. Mungkin ada seseorang yang lebih baik, yang akan menerima kamu apa adanya."

"Siapa, Bu?" Arga hampir berteriak. "Lihat saya, Bu! Saya nggak bisa jalan! Saya cuma lulusan SMA! Saya nggak punya apa-apa!"

Ibu Sri berlutut di depan kursi roda, memegang kedua tangan Arga. Tangan itu kasar, penuh bekas luka, dari jatuh motor, dari perkelahian, dari hidup yang keras.

"Dengar, Nak." Suara Ibu Sri bergetar, tapi matanya tegas. "Cacat di kaki tidak berarti kamu tidak berharga. Kamu masih punya otak, masih bisa berpikir. Kamu masih punya hati, masih bisa merasa. Kamu masih punya masa depan, selama kamu mau berusaha. Jangan biarkan kecelakaan ini menghancurkan siapa dirimu."

Arga diam. Kata-kata ibunya masuk, meresap, namun belum bisa mengubah apa pun.

"Besok kita pulang," kata Ibu Sri tiba-tiba.

Arga terkejut. "Pulang? Tapi dokter bilang—"

"Dokter bilang kamu boleh rawat jalan." Ibu Sri berdiri, mulai membereskan barang-barang. "Kita nggak punya biaya buat lama-lama di sini. BPJS cuma cover sebagian. Besok kita pulang ke desa. Ke Bukit Maya."

Arga membelalak. "Desa? Bu, saya nggak mau pulang ke desa."

"Kenapa?"

"Semua orang di sana akan mengejek saya." Arga gelisah di kursi rodanya. "Saya tahu mereka. Warga desa suka gosip. Mereka akan bilang, 'Lihat anak Ibu Sri, dulu sombong, sekarang pulang pincang.'"

"Biarkan mereka," kata Ibu Sri tegas. Ia melipat baju Arga dengan rapi. "Kamu harus pulang. Kamu harus istirahat. Dan kamu harus memulai hidup baru. Di kota ini, kamu hanya akan ingat masa lalumu yang kelam."

Arga ingin membantah, namun melihat wajah ibunya yang lelah, punggungnya yang mulai membungkuk, ia mengurungkan niatnya.

"Baik, Bu." Ia menunduk. "Saya ikut Ibu."

 

Perjalanan dari Banjarmasin ke Desa Bukit Maya memakan waktu empat jam. Arga duduk di bis antarkota, memandangi pemandangan yang berubah dari gedung-gedung tinggi menjadi sawah hijau yang membentang luas. Hatinya campur aduk. Rindu pada desa kelahirannya bercampur dengan takut akan ejekan dan gunjingan. Bis berhenti di terminal kecil Kecamatan Bukit Maya. Ibu Sri menuntunnya turun dengan hati-hati. Di terminal itu, beberapa orang memandang mereka dengan tatapan ingin tahu. Arga menunduk, berusaha tidak menatap siapa pun.

Terminal Bukit Maya adalah terminal kecil yang hanya dilalui bis antarkota tiga kali sehari. Bangunannya sederhana, hanya berupa lapangan aspal dengan beberapa pohon rindang dan sebuah warung kopi beratap seng. Di pojok terminal, beberapa tukang ojek mangkal sambil main domino.

Saat Arga turun dari bis, matahari sedang terik-teriknya. Udara panas dan lembab menyambutnya, berbeda dengan kota yang ber-AC di mana-mana. Ia memakai topi untuk melindungi wajah, namun itu tidak cukup menyembunyikan tongkat di tangannya. Kaki kanannya masih sakit kalau dipakai berdiri terlalu lama.

"Ibu, Arga!"

Suara itu familiar. Arga menoleh. Seorang gadis berlari kecil ke arah mereka, melewati genangan air bekas hujan semalam. Rambutnya sebahu, diikat setengah. Wajahnya bulat dengan pipi merona karena terkena sinar matahari. Ia mengenakan kaos oblong putih dan celana jeans sederhana, sandal jepit di kaki.

"Maya?" gumam Arga.

Maya berhenti di depan mereka, tersenyum lebar. Senyum yang sama seperti dulu, tulus, hangat, tanpa kepura-puraan.

"Arga! Ibu Sri! Selamat datang!" Maya membungkuk sedikit memberi hormat pada Ibu Sri.

Ibu Sri memeluk Maya hangat. "Maya, Nak, kamu baik sekali mau jemput. Ibu cuma SMS bentar, langsung kamu datang."

"Ah, Ibu Sri bilang apa." Maya tertawa, suaranya renyah. "Saya kan tetangga. Lagipula, sudah lama nggak ketemu Arga."

Ia menatap Arga. Senyumnya tetap merekah, namun matanya menunjukkan keprihatinan. Sorot mata yang tahu, tapi tak mau bertanya.

"Halo, Arga. Lama nggak ketemu."

Arga menunduk. "Halo, May."

Maya melihat tongkat di tangan Arga, melihat bagaimana ia sedikit pincang saat berdiri. Namun ia tidak berkomentar. Ia langsung mengambil tas besar yang dibawa Ibu Sri, juga kardus berisi oleh-oleh.

"Ayo, saya sudah siapkan ojek. Rumah Ibu Sri lumayan jauh dari sini, jalannya naik turun."

Mereka berjalan ke tempat ojek. Maya membantu Arga naik ke ojek dengan hati-hati, memegangi tangannya, memastikan ia duduk dengan nyaman. Sepanjang jalan menuju desa, Maya terus bercerita tentang ini dan itu.

"Wah, Ibu Sri, panen padi kemarin melimpah, lho. Sawah Ibu yang dekat sungai dapat banyak." Maya bersemangat. "Saya bantu panen sedikit, lumayan buat belajar."

Ibu Sri tersenyum. "Kamu baik sekali, May. Siapa yang ngurus sawah Ibu?"

"Pak Dullah, tetangga. Dia rawat baik-baik." Maya menoleh ke belakang pada Arga. "Arga, ingat Pak Dullah nggak? Yang dulu sering marahin kita pas main di sawah?"

Arga tersenyum kecil. "Ingat. 'Hei, bocah! Jangan injak padi!' gitu marahnya."

Maya tertawa. "Iya! Suaranya keras banget. Tapi sekarang baik, kok. Sering bantu-bantu Ibu Sri."

Arga hanya mendengarkan. Ia terlalu sibuk memikirkan apa yang akan terjadi. Tentang warga desa yang akan menatapnya. Tentang bisik-bisik di belakang punggung.

Rumah Ibu Sri terletak di ujung Desa Bukit Maya, di pinggir sawah yang membentang luas. Rumah panggung sederhana dengan dinding kayu ulin yang sudah mulai lapuk dimakan usia. Atap sengnya berkarat di sana-sini. Di halaman, beberapa ekor ayam berkeliaran mencari makan, seekor kucing hitam tidur di kolong rumah.

Setelah ojek pergi, Maya membantu Arga naik ke rumah. Tangga rumah panggung tidak terlalu  tinggi, dan Arga kesulitan.

"Sini, pegang tangan saya," kata Maya, mengulurkan tangan.

Arga ragu. "May, aku bisa—"

"Ayo, nggak usah malu." Maya tersenyum. "Dulu waktu SD, kamu sering pegang tangan saya pas jalan pulang. Ingat? Saya takut sama anjing tetangga."

Arga teringat. Dulu, Maya memang selalu ketakutan kalau melewati rumah yang punya anjing galak. Arga selalu menggandeng tangannya, memberinya keberanian.

Ia menggenggam tangan Maya. Tangannya hangat dan kuat. Perlahan, ia naik satu anak tangga. langkahnya terasa berat, namun Maya sabar menunggu. Ketika sampai di teras, Arga menghela napas lega.

"Terima kasih, May."

"Sama-sama." Maya tersenyum. "Saya duluan ya, Ibu Sri. Nanti sore saya ke sini lagi. Mau masak apa? Saya bawakan sayur dari kebun."

Ibu Sri mengangguk. "Terserah, Nak. Yang penting kamu datang."

"Hati-hati, May," Arga menambahi.

Maya melambai, lalu turun tangga dengan lincah. Arga memandanginya sampai hilang di balik pohon pisang.

Ibu Sri tersenyum melihat anaknya. "Maya anak baik, ya?"

Arga mengangguk. "Iya, Bu."

"Masa kecil kalian dulu akrab. Main bareng terus. Sekarang dia sudah dewasa, kuliah pertanian, pintar lagi."

Arga diam. Ia masuk ke dalam rumah, duduk di beranda yang menghadap ke sawah. Dari sini, ia bisa melihat hamparan hijau yang mulai menguning, siap panen. Angin sepoi membawa bau padi dan tanah basah. Jauh di ujung, tampak Gunung Meratus biru di kejauhan.

"Indah, ya?" kata Ibu Sri sambil duduk di sampingnya, meletakkan dua gelas teh manis hangat.

Arga mengangguk. "Saya lupa desa sebagus ini. Dulu waktu kecil, saya pikir desa ini membosankan. Nggak ada mall, nggak ada tempat nongkrong keren."

"Karena kamu terlalu lama di kota." Ibu Sri menyesap tehnya. "Sibuk dengan duniamu sendiri. Lupa dari mana kamu berasal."

Arga diam. Ibunya benar.

Malam harinya, Arga terbangun karena suara orang mengobrol. Jendela kamarnya terbuka, dan suara dari rumah tetangga masuk jelas. Rumah Pak Dullah, petani yang disebut Maya tadi.

"Lihat, anak Ibu Sri pulang." Itu suara Bu Dullah, istri Pak Dullah. "Dulu sombong sekali, pakai motor gede, jaket mahal, sok jagoan."

"Sekarang jalan pakai tongkat." Suara Pak Dullah menyambung. "Itulah buah kesombongan. Masa muda dihabiskan untuk balapan, sekarang dapat balasannya."

"Kasian juga Ibu Sri. Udah tua, harus ngurus anak cacat."

"Itu konsekuensi. Anak muda jaman sekarang nggak mikir masa depan."

Arga menutup telinga dengan bantal. Namun suara itu tetap masuk, menusuk hati.

Mereka benar, pikirnya. Aku memang sombong. Aku memang dapat balasannya.

Keesokan harinya, Maya datang lagi. Kali ini ia membawa sayuran segar dari kebunnya, kangkung, bayam, dan beberapa terong ungu mengkilap.

"Ibu Sri, ini buat tambah lauk." Maya menyerahkan sayuran.

Ibu Sri menerima dengan senang hati. "Maya, kamu baik sekali. Duduklah dulu. Ibu buatkan es teh."

Maya duduk di beranda, di samping Arga yang sedang memandangi sawah. Kakinya diangkat ke kursi, mengurangi beban.

"Sudah sarapan?" tanya Maya.

Arga mengangguk. "Ibu masak bubur."

"Kamu kurusan," kata Maya jujur. "Makan yang banyak, biar cepat pulih."

Arga tersenyum getir. "Pulih? May, aku nggak akan pernah pulih sepenuhnya. Dokter bilang, aku akan cacat seumur hidup."

Maya menatapnya. "Arga, aku tahu kamu sedih. Tapi kamu harus kuat."

"Kuat buat apa?" Arga hampir berteriak. Ia menunjuk ke arah rumah Pak Dullah. "Kamu dengar mereka ngomong? Semua orang di sini mengejekku. Aku jadi bahan tertawaan."

Maya diam sejenak. Lalu ia berkata pelan, "Arga, ingat waktu kecil dulu? Kamu selalu bilang, 'May, kalau jatuh, jangan nangis. Bangkit lagi.'"

Arga teringat masa kecilnya. Dulu ia memang selalu begitu. Kuat. Pantang menyerah. Setiap kali Maya jatuh dari sepeda, ia selalu membantunya bangkit dan berkata, "Ayo, jangan nangis. Kita coba lagi."

"Sekarang aku yang jatuh," gumamnya.

"Dan sekarang aku yang akan bilang: bangkit, Arga." Maya memegang lengan Arga. "Kamu bisa."

Arga menatap Maya. Sinar matahari sore membuat wajah Maya tampak bercahaya. Matanya bulat, alisnya tebal alami, bibirnya tersenyum tipis. Sederhana, tapi entah mengapa membuat hati Arga hangat.

"May, kenapa kamu peduli padaku?" tanyanya tiba-tiba.

Maya tersenyum. "Karena kita sahabat."

"Hanya itu?"

Maya terdiam. Wajahnya memerah. Tangannya tiba-tiba sibuk merapikan ujung bajunya.

"Apa maksudmu?"

Arga menggeleng. "Tidak apa-apa. Lupakan. Aku cuma... nggak ngerti kenapa masih ada yang peduli padaku."

Maya tak menjawab. Mereka diam memandang senja. Matahari perlahan tenggelam di balik cakrawala, meninggalkan warna jingga keemasan di langit.

"Arga," Maya berkata tiba-tiba.

"Hm?"

"Matahari tidak selalu terlihat."

Arga menoleh. "Maksudmu?"

Maya menunjuk ke arah cakrawala, di mana matahari hampir tenggelam. "Kadang ia bersembunyi di balik cakrawala. Tapi itu tidak berarti ia hilang. Ia tetap di sana, menunggu waktu yang tepat untuk muncul kembali."

Arga merenung. Kata-kata Maya seperti sinar di tengah kegelapan yang menyelimuti hatinya.

"Artinya... masih ada harapan?"

Maya mengangguk mantap. "Selalu ada harapan, Arga. Selama kamu masih hidup, selama kamu masih mau berusaha, selama masih ada orang yang peduli padamu."

Untuk pertama kalinya sejak kecelakaan, Arga tersenyum. Senyum kecil, namun tulus. Bukan senyum pahit seperti biasanya.

"Terima kasih, May."

 

Bulan-bulan berlalu di Desa Bukit Maya. Arga perlahan beradaptasi dengan kehidupan barunya. Setiap pagi ia bangun pagi, membantu ibunya sebisanya, memetik sayur di kebun belakang, memberi makan ayam, kadang-kadang ikut ke sawah meski hanya duduk di pematang. Setiap sore, Maya datang dan mereka duduk di beranda, memandang senja, mengobrol tentang banyak hal. Maya tak pernah lelah membawa kabar dari luar, tentang apa yang terjadi di desa, tentang teman-teman lama, tentang dunia yang terus berputar tanpa Arga. Namun suatu sore, Maya datang dengan wajah berseri-seri. Ia membawa kabar yang akan mengubah segalanya.

Tiga bulan telah berlalu sejak Arga pulang ke desa.

Kaki kanannya berangsur pulih, meskipun ia masih membutuhkan tongkat untuk berjalan. Rasa sakitnya sudah berkurang, dari sakit menusuk menjadi nyeri yang kadang-kadang datang. Ia sudah bisa naik turun tangga rumah sendiri, meski pelan-pelan dan harus berpegangan.

Setiap pagi, ia bangun jam lima, ikut Ibu Sri ke kebun belakang. Ia belajar memetik sayur, memberi makan ayam, kadang ikut ke sawah meski hanya duduk di pematang dan melihat burung-burung beterbangan.

Setiap sore, Maya datang. Mereka duduk di beranda, minum teh, memandang senja. Maya bercerita tentang kuliahnya, ia ambil jurusan pertanian di kampus terbuka, belajar online. Tentang penelitiannya tentang hidroponik. Tentang teman-temannya. Tentang berita-berita lucu di desa.

Suatu sore, Maya datang dengan langkah tergesa. Wajahnya berseri-seri, matanya berbinar. Ia bahkan tidak sempat melepas sandal.

"Arga! Ibu Sri! Ada kabar baik!" serunya dari halaman rumah.

Arga yang sedang duduk di beranda menegakkan badan. "Kabar apa, May? Naik dulu."

Maya naik tangga dengan cepat, hampir tersandung. Ia duduk di samping Arga, napas sedikit tersengal.

"Desa kita buka penjaringan perangkat desa!" Maya mengeluarkan ponselnya, menunjukkan pengumuman. "Lihat, ini! Mereka cari kasi pemerintahan baru. Pendaftaran dibuka minggu depan."

Arga mengerutkan kening. "Lalu?"

"Kamu harus daftar!"

Arga tertawa. Tawanya sinis, seperti dulu. "May, lihat aku." Ia menunjuk dirinya sendiri. "Aku lulusan SMA. Aku cacat. Aku mantan pembalap liar yang putus kuliah. Masa mau jadi perangkat desa?"

"Kenapa tidak?" Maya membela. Matanya berapi-api. "Kamu pintar komputer. Dulu kamu juara lomba desain web se-kabupaten, ingat? Waktu SMA, kamu buat website sekolah, dapat penghargaan dari bupati."

Arga terdiam. Ia hampir lupa tentang masa lalunya yang itu. Di SMA, ia memang pernah ikut lomba desain web dan menang. Nilai-nilainya juga bagus, meskipun sering bolos karena balapan. Gurunya dulu bilang, "Arga, kamu ini pintar, sayang salah pergaulan."

"Itu dulu, May." Arga menggeleng. "Sekarang aku bahkan nggak punya laptop. Komputer aja nggak punya."

"Aku punya." Maya menepuk dadanya. "Pinjam aja. Laptopku cukup bagus, buat ngerjain tugas kuliah."

Arga masih ragu. "May, kamu tahu kan orang desa bakal ngomong apa? 'Si pincang itu mau jadi perangkat desa? Ngaca dulu!'"

"Biarkan mereka bicara." Maya meraih tangan Arga. Genggamannya hangat dan mantap. "Yang penting kamu buktikan bahwa kamu mampu. Kalau kamu diam aja, mereka akan terus mengejek. Tapi kalau kamu buktikan, mereka akan tutup mulut."

Ibu Sri yang keluar membawa minuman mendengar percakapan mereka. Ia ikut duduk, meletakkan nampan berisi es teh dan pisang goreng.

"Arga, dengar kata Maya." Ibu Sri menatap anaknya. "Cobalah. Ibu yakin kamu bisa. Ibu kenal anak Ibu, kamu pintar. Cuma selama ini kamu salah jalan."

Arga menatap ibu dan sahabatnya. Dua orang yang paling peduli padanya di dunia ini. Dua orang yang tidak pernah pergi saat yang lain meninggalkannya.

"Tapi Bu, saya takut gagal." Suaranya lirih. "Saya sudah gagal jadi pembalap. Gagal jadi pacar yang baik. Gagal jadi anak yang membanggakan. Saya takut gagal lagi."

Ibu Sri tersenyum. Ia mengusap rambut Arga, seperti waktu kecil. "Kegagalan itu biasa, Nak. Yang tidak biasa adalah tidak pernah mencoba sama sekali. Coba ingat, waktu kamu belajar naik sepeda dulu, berapa kali jatuh?"

Arga mengingat. "Banyak. Mungkin puluhan kali."

"Tapi akhirnya bisa?"

"Bisa."

"Nah." Ibu Sri mengangguk puas. "Sama seperti sekarang. Kamu mungkin jatuh berkali-kali dalam hidup. Tapi selama kamu masih mau bangkit, kamu belum kalah."

Arga merenung. Kata-kata ibunya mengingatkan pada masa kecil, ketika ia belajar naik sepeda, ketika ia belajar main sepak bola, ketika ia belajar apa pun. Ia selalu jatuh. Tapi ia selalu bangkit.

Sampai kecelakaan itu.

Sampai ia merasa bangkit itu sia-sia.

Tapi sekarang...

"Baiklah," katanya akhirnya. "Aku akan coba."

Maya bersorak gembira. Ia melompat dari kursinya. "Yes! Aku bantu kamu belajar! Kita mulai besok!"

Ibu Sri tersenyum melihat mereka. Ada harapan baru di matanya.

Sejak hari itu, setiap sore Arga belajar di rumah Maya. Rumah Maya tidak jauh, hanya sekitar seratus meter dari rumah Ibu Sri. Rumah panggung yang lebih besar, milik Pak Lurah, ayah Maya.

Maya meminjamkan laptopnya, dan Arga mulai membuat konsep untuk desa digital. Ia membaca banyak artikel, menonton video di YouTube tentang pelayanan publik online, mempelajari website desa-desa lain yang sudah maju.

Maya selalu di sampingnya. Kadang membantu mencari bahan, kadang hanya menemani sambil membaca buku pertanian. Kadang mereka diam-diaman, kadang mereka tertawa bersama.

Suatu malam, saat mereka belajar sampai larut, Arga menatap Maya yang sedang asyik membaca.

"May, kamu nggak bosan?" tanya Arga tiba-tiba.

Maya mengangkat wajah dari bukunya. "Boson?"

"Iya." Arga menutup laptop. "Tiap hari bantu aku terus. Nggak capek? Nggak pengen hangout sama teman-teman kamu yang lain?"

Maya meletakkan bukunya. "Arga, dengar. Kamu bukan beban. Kamu temanku. Dan teman itu harus saling bantu. Ingat waktu SD dulu, aku sering diganggu anak laki-laki, kamu selalu bela aku. Sampai pernah berantem sama mereka."

Arga tersenyum. "Ingat. Waktu itu, hidung kamu mimisan, aku marah besar."

"Iya! Kamu pukul anak itu sampai nangis." Maya tertawa. "Besoknya kamu dipanggil kepala sekolah. Tapi kamu nggak pernah menyesal."

"Sekarang giliranku yang diganggu. Dan kamu bela aku."

"Lihat?" Maya menunjuk Arga. "Saling bantu. Itu artinya sahabat."

Arga terdiam. Matanya menatap Maya dalam-dalam.

"May, kamu... kamu beda."

Maya mengerjap. "Beda gimana?"

Arga menggeleng. "Nggak tahu. Pokoknya beda. Orang-orang di kota, mereka lihat aku cuma sebagai pembalap. Begitu aku jatuh, mereka pergi. Tapi kamu... kamu lihat aku sebagai Arga. Yang dulu kecil, yang suka main di sawah, yang suka bela kamu."

Maya menunduk. Wajahnya memerah. "Ya karena itu kamu. Itu Arga yang aku kenal."

"Aku udah berubah, May."

"Orang bisa berubah." Maya menatapnya lagi. "Tapi hati yang baik, biasanya nggak pernah benar-benar hilang."

Mereka berdua diam. Suara jangkrik di sawah terdengar jelas.

"May..." Arga ragu.

"Hm?"

"Aku..."

"Udah, udah." Maya memotong cepat. Ia berdiri. "Udah malam. Kamu harus istirahat. Besok kita lanjut."

Arga menghela napas. "Iya. Makasih, May."

"Sama-sama."

Maya mengantarnya ke pintu. Arga berjalan pelan dengan tongkatnya, menuruni tangga rumah Maya. Di bawah sinar rembulan, ia berjalan pulang dengan perasaan aneh di dadanya.

Ada apa ini? pikirnya. Kenapa tiba-tiba aku deg-degan lihat Maya?

Ia menggeleng. Mungkin cuma capek.

Pak Darmo adalah perangkat desa lama yang punya ambisi besar. Ia ingin keponakannya, Joko, yang menjadi kasi pemerintahan baru. Jabatan itu penting baginya, dengan menguasai kasi pemerintahan, ia bisa mengontrol banyak hal di desa. Ketika mendengar Arga ikut mendaftar, amarahnya meledak. Bagaimana mungkin anak cacat, anak brandalan, berani bersaing dengan keponakannya? Ia mulai menyusun rencana. Menyebar isu, mempengaruhi penguji, melakukan apa pun untuk menggagalkan Arga. Namun ia lupa satu hal: di desa, warga punya mata dan telinga. Dan kebenaran, sekeras apa pun ditutupi, pasti akan terungkap.

Di rumah besar Pak Darmo, suasana sedang panas.

Rumah itu terletak di tengah desa, bangunan permanen dua lantai dengan halaman luas. Di teras, Pak Darmo duduk di kursi rotan kesayangannya, wajahnya merah padam seperti tomat. Di depannya, Joko duduk gelisah sambil bermain handphone, tidak berani menatap pamannya.

"Kau dengar tidak?" bentak Pak Darmo sambil memukul sandaran kursi. "Anak Ibu Sri itu, Arga, ikut mendaftar! Ini gila!"

Joko mengangkat kepala malas-malasan. Jari-jarinya masih sibuk di handphone. "Udah Pakde. Santai aja."

"Santai?" Pak Darmo hampir melompat dari kursi. "Kau ini! Sainganmu bertambah, masa santai? Dasar pemuda jaman sekarang otak udang!"

Joko menyeringai sinis. "Pakde, anak cacat begitu bukan saingan. Kasian aja lihatnya. Jalan aja pincang, masa mau jadi perangkat desa? Ngaca dulu."

Pak Darmo memukul meja keras-keras. Brak! Gelas di atas meja sampai bergetar. "Kau jangan remehkan! Aku dengar dari anak buahku, dia pintar komputer. Waktu SMA, dia juara lomba desain web se-kabupaten. Kalau dia bicara soal digitalisasi desa di wawancara, bisa-bisa penguji terkesan!"

Joko mulai gelisah. Handphonenya ia letakkan di meja. "Lalu bagaimana, Pakde?"

Pak Darmo tersenyum licik. Senyum yang tidak pernah gagal membuat Joko merinding. "Kita harus bergerak cepat. Kau tahu siapa pengujinya?"

"Tahu. Pak Surya dari kecamatan, Bu Rina, dan Pak Budi."

"Bagus." Pak Darmo mengusap-usap kumisnya. "Pak Budi itu kenalan lamaku. Dulu satu organisasi pemuda. Mungkin bisa diajak kerja sama."

Joko mengerutkan kening. "Maksud Pakde?"

"Kita sebarkan isu." Pak Darmo berbisik, meskipun tidak ada orang lain di ruangan itu. "Bilang kalau Arga itu mantan pembalap liar, pernah masuk penjara karena kasus narkoba, kabur dari kota karena utang."

Joko terbelalak. "Dia nggak pernah masuk penjara, Pakde. Narkoba juga nggak. Gue dengar dia cuma balapan liar."

"Warga nggak perlu tahu detailnya." Pak Darmo tersenyum puas. "Yang penting mereka percaya. Kalau warga sudah percaya, image-nya hancur. Penguji juga bakal ragu."

Joko mengangguk setuju. Senyumnya ikut licik. "Pakde jenius."

"Tentu saja." Pak Darmo bersandar di kursinya. "Aku ini sudah puluhan tahun di pemerintahan. Tahu seluk-beluknya. Anak baru kayak dia? Nggak akan bisa apa-apa."

Malam itu juga, isu mulai menyebar dari warung ke warung.

Di warung kopi Pak Karyo, beberapa warga duduk sambil main kartu. Joko masuk, memesan kopi, lalu duduk di meja sebelah.

"Eh, kalian tahu?" Joko memulai dengan nada berbisik tapi cukup keras didengar. "Anak Ibu Sri itu, Arga, katanya mantan narapidana."

Warga lainnya menoleh. "Narapidana? Kasus apa?"

"Narkoba. Di kota, dia terlibat jaringan besar. Lari ke sini buat kabur dari kejaran."

"Astaga..." Bu Dullah yang ikut duduk di meja lain terkejut. "Nggak nyangka. Anak Ibu Sri kelihatannya baik."

"Itu modus." Joko menggeleng-geleng pura-pura iba. "Yang baik-baik, biasanya paling licik."

Berita itu menyebar cepat. Esok harinya, hampir seluruh desa sudah mendengar.

Keesokan harinya, Maya mendengar isu itu dari ibunya. Ibu Maya, Bu Lurah, mendapat laporan dari beberapa warga yang khawatir.

"May, ibu dengar ada isu nggak enak tentang Arga," kata Bu Lurah saat Maya baru bangun tidur.

Maya menguap. "Isu apa, Bu?"

"Katanya dia mantan narapidana. Terlibat narkoba di kota."

Maya terkejut. Matanya melebar. "Apa? Itu fitnah, Bu! Arga nggak pernah masuk penjara. Dia cuma balapan liar, itu pun sudah insaf setelah kecelakaan."

Bu Lurah menghela napas. "Ibu tahu, May. Tapi warga percaya. Kau harus bilang sama Arga."

Maya segera berlari ke rumah Arga. Ia bahkan tidak sempat mandi, masih pakai daster dan rambut acak-acakan.

"Arga! Arga!" teriaknya dari halaman rumah.

Arga keluar ke beranda, terkejut melihat Maya. "May? Kok pagi-pagi sudah ke sini? Dan... kamu pakai daster?"

Maya menengok ke bawah, baru sadar. Mukanya merah padam. "Ah, nggak usah peduliin daster! Ada masalah besar!"

Naik tangga dengan tergesa-gesa, Maya hampir jatuh dua kali. Arga menangkapnya di ujung tangga.

"Pelan-pelan, May. Nanti jatuh."

Maya mengatur napas. "Arga, ada yang nyebarin fitnah!"

Arga mengerutkan kening. "Fitnah apa?"

Maya menceritakan semuanya, tentang isu narkoba, tentang narapidana, tentang utang. Wajah Arga berubah dari bingung menjadi masam.

"Jahat sekali," gumamnya. "Siapa yang melakukan?"

"Aku curiga Pak Darmo." Maya mulai tenang. "Dia kan mau Joko yang menang. Pasti dia yang nyebarin isu. Cuma dia yang punya kepentingan buat jatuhin kamu."

Arga diam. Ia merasakan amarah membuncah di dadanya. Tangannya mengepal. Ingin rasanya ia pergi ke rumah Pak Darmo, menghadapinya, memukulnya.

Tapi...

Ia ingat masa lalunya. Amarah selalu membuatnya celaka.

"Biarkan," katanya akhirnya.

Maya terkejut. "Biarkan? Arga, ini fitnah! Ini bisa merusak reputasimu di mata warga dan penguji!"

Arga menggeleng. "May, kalau aku marah dan balas menyebar isu juga, aku sama saja dengan mereka. Aku harus buktikan dengan prestasi, bukan dengan omongan."

Maya tercengang. Ia tidak menyangka Arga bisa berpikir sedewasa itu. Dulu, Arga dikenal cepat marah, cepat emosi. Tapi sekarang...

"Arga... kamu hebat." Maya tersenyum bangga.

Arga tersenyum getir. "Aku belajar dari masa laluku. Dulu aku selalu membalas dengan amarah. Lihat hasilnya: aku di sini, cacat dan sendiri."

"Kamu tidak sendiri," kata Maya lembut. "Ada aku. Ada Ibu Sri. Ada Tuhan."

Arga menatap Maya. Hatinya hangat.

"Terima kasih, May. Kamu selalu ada buat aku."

Sore harinya, Maya kembali ke rumah Arga dengan wajah berseri.

"Arga, aku tahu siapa yang nyebarin fitnah! Joko! Suruhan Pak Darmo!"

Arga mengangguk tenang. "Sudah kuduga."

"Aku akan lapor polisi!" ancam Maya. "Ini pencemaran nama baik!"

"Jangan, May."

"Kenapa?" Maya hampir menjerit. "Mereka merusak reputasimu! Kamu tahu nggak, beberapa warga mulai curiga sama kamu?"

Arga menggeleng. "Kalau aku lapor, mereka akan makin benci. Dan perang tidak akan berakhir. Pak Darmo punya pengaruh besar di desa. Kalau aku lawan dengan cara keras, aku bisa kena imbasnya."

Maya menghela napas. "Arga, kamu terlalu baik."

"Bukan baik." Arga tersenyum. "Tapi lelah. Lelah bermusuhan, lelah dendam. Aku ingin hidup damai, May. Aku ingin mulai baru. Kalau aku balas dendam, aku akan kembali ke masa lalu."

Maya tersentuh. Ia memeluk Arga. Pelukan hangat yang membuat Arga terkejut.

"Kamu hebat, Arga. Sungguh."

Arga membalas pelukan itu, ragu-ragu. "Makasih, May."

 

Gedung kantor kecamatan dipenuhi peserta dan pendukung. Suasana tegang campur semangat. Arga datang dengan Maya dan Ibu Sri. Ia melihat Pak Darmo dan Joko di sudut ruangan, tersenyum sinis padanya. Arga membalas dengan senyuman tipis. Hatinya berdebar, namun ia berusaha tenang. Ia sudah belajar mati-matian. Ia sudah menyiapkan jawaban terbaik. Kini tinggal membuktikan bahwa ia mampu.

Hari tes wawancara tiba.

Cuaca cerah, kontras dengan hati Arga yang campur aduk. Ia bangun jam empat pagi, tidak bisa tidur. Ia mandi, berpakaian rapi, kemeja putih lengan panjang yang sudah agak kekuningan di ketiak, celana bahan hitam yang Ibu Sri setrika sampai rapi. Rambutnya ia potong pendek seminggu lalu, sekarang terlihat rapi.

Maya dan Ibu Sri mengantarnya ke kantor kecamatan. Mereka naik ojek berboncengan, Ibu Sri di depan, Arga di tengah, Maya di belakang. Sepanjang jalan, Arga diam. Tangannya menggenggam map berisi berkas pendaftaran.

"Arga, kamu nggak usah grogi," kata Maya dari belakang. "Kamu sudah siap."

"Iya," jawab Arga singkat.

Di pintu masuk kantor kecamatan, mereka bertemu Pak Darmo dan Joko. Pak Darmo memakai batik lengan panjang, celana bahan hitam, dan sepatu pantofel mengkilap. Joko juga rapi, tapi kelihatan canggung dengan kemeja baru yang masih kaku.

"Wah, Arga, ikut tes juga?" sapa Pak Darmo pura-pura ramah. Senyumnya lebar, tapi matanya dingin. "Semoga berhasil ya, meskipun... ya gitu lah. Saingan berat, tahu."

Arga tersenyum tenang. "Terima kasih, Pak. Saya akan berusaha sebaik mungkin."

Joko terkekeh. Melirik tongkat Arga. "Pakde, si pincang ini mau jadi perangkat desa. Ngaca dulu kali, ya? Liat diri sendiri dulu sebelum ngelamar."

Maya melotot. Matanya menyala. "Joko, jaga mulutmu! Jangan sombong!"

"Tenang, May." Arga menahan lengan Maya. Ia tetap tersenyum. "Biarkan."

Ia melangkah masuk, meninggalkan Pak Darmo dan Joko yang tercengang.

"Kok dia tenang banget?" gumam Joko.

Pak Darmo mengerutkan kening. "Aneh. Biasanya anak muda gampang emosi."

Di ruang tunggu, dua puluh peserta duduk tegang di kursi-kursi plastik. Ada yang sibuk membaca catatan, ada yang duduk diam sambil memejamkan mata, ada yang mondar-mandir gelisah. Suasana hening, hanya terdengar suara kipas angin yang berputar lambat.

Arga mengambil nomor 14. Ia duduk di kursi paling ujung, dekat jendela yang terbuka. Tongkatnya ia sandarkan di dinding, mudah dijangkau. Dari jendela, ia bisa melihat halaman kantor kecamatan, di mana Maya dan Ibu Sri duduk di bangku taman, menunggu.

Seorang pria paruh baya duduk di sampingnya. Pria itu tersenyum ramah, menunjukkan deretan gigi yang agak kuning karena rokok. Badannya agak gendut, rambutnya tipis di depan.

"Nama saya Budi. Peserta juga. Dari Desa Sungai Lumbah, tetangga desa kalian."

Arga mengangguk. "Arga. Dari Bukit Maya."

"Kaki?" tanya Budi hati-hati, menunjuk tongkat.

"Kecelakaan."

Budi mengangguk mengerti. Ekspresinya berubah simpatik. "Saya juga punya anak cacat. Jatuh dari pohon waktu kecil. Patah tulang belakang. Sekarang dia jadi guru."

Arga terkejut. "Guru?"

"Iya." Budi tersenyum bangga. "Meskipun cacat, dia nggak menyerah. Kuliah, ambil pendidikan, sekarang ngajar di SD. Malah jadi guru teladan tahun lalu."

Arga merenung. Kata-kata Budi memberinya semangat baru.

"Terima kasih, Pak," katanya.

"Nomor 1 sampai 5, siap-siap!" teriak petugas dari dalam.

Budi berdiri. "Saya nomor 3. Doakan ya."

"Sukses, Pak."

Satu per satu peserta dipanggil. Ada yang keluar dengan wajah ceria, ada yang lesu. Suasana semakin tegang.

"Nomor 14! Arga Pratama!"

Arga berdiri. Jantungnya berdebar kencang. Ia mengambil tongkatnya, berjalan menuju ruang wawancara. Setiap langkah terasa berat, tapi ia paksakan.

Sebelum masuk, ia menoleh ke arah jendela. Maya dan Ibu Sri melambai dari taman, memberi semangat. Arga mengangguk.

"Aku bisa," bisiknya dalam hati.

Di ruang wawancara, tiga penguji duduk di meja panjang. Meja itu dilapisi taplak hijau, di atasnya ada tumpukan berkas, gelas air mineral, dan laptop.

Pak Surya duduk di tengah. Usia sekitar 50 tahun, rambut mulai memutih, kacamata baca di ujung hidung. Wajahnya tegas, tidak banyak senyum. Di sebelah kirinya, Bu Rina, wanita 40-an dengan jilbab rapi dan senyum ramah. Di sebelah kanan, Pak Budi, yang ternyata penguji, bukan peserta. Arga baru sadar.

"Oh, jadi Bapak penguji?" gumam Arga.

Pak Budi tersenyum kecil. "Maaf tadi saya iseng duduk di ruang tunggu. Ingin lihat calon-calon dari dekat."

Arga mengangguk, berusaha tenang.

"Silakan duduk, Arga," kata Pak Surya.

Arga duduk di kursi yang disediakan. Ia meletakkan tongkat di samping kursi, berusaha duduk tegak meskipun kakinya sakit kalau terlalu lama ditekuk.

"Arga Pratama, 22 tahun, pendidikan terakhir SMA," kata Pak Surya membaca berkas. Matanya menatap Arga tajam. "Anda drop out dari universitas?"

Arga mengangguk. "Benar, Pak. Saya mengalami kecelakaan, sehingga tidak bisa melanjutkan kuliah. Saya harus fokus pemulihan."

Pak Surya mengangguk. "Kenapa Anda ingin menjadi perangkat desa? Dengan kondisi Anda... maaf, kenapa tidak coba pekerjaan lain yang lebih ringan?"

Arga menarik napas. Ini pertanyaan kritis. Ia sudah mempersiapkan jawabannya bersama Maya.

"Karena saya ingin memperbaiki hidup saya, Pak." Suaranya mantap. "Saya sudah membuat banyak kesalahan di masa lalu. Saya ingin buktikan bahwa saya bisa berguna, untuk diri sendiri, keluarga, dan masyarakat."

"Hanya itu?"

Arga mengangkat kepala. Matanya bertemu dengan mata Pak Surya. "Saya ingin desa ini maju, Pak. Saya punya ide untuk digitalisasi desa. Website desa, pelayanan online, transparansi anggaran. Saya yakin desa kita bisa lebih baik, lebih modern, tanpa kehilangan nilai-nilai tradisional."

Bu Rina tertarik. Matanya berbinar. "Jelaskan lebih detail, Arga."

Arga menjelaskan panjang lebar. Tentang website yang bisa diakses warga kapan saja. Tentang formulir online untuk surat-surat, KTP, KK, surat keterangan. Tentang anggaran yang bisa dilihat semua orang, transparan, tidak bisa dikorupsi. Ia juga menjelaskan manfaatnya bagi petani, informasi cuaca terkini, harga pasar, pupuk bersubsidi, dan cara mendapatkannya.

Pak Budi yang terkenal sulit, menyela. "Bagaimana dengan warga yang tidak punya internet? Atau yang tidak bisa baca tulis?"

Arga sudah siap dengan pertanyaan ini. "Kita sediakan komputer di balai desa, Pak, dengan petugas yang siap membantu. Untuk yang tidak bisa baca, kita tetap layani secara manual seperti biasa. Website ini pelengkap, bukan pengganti."

Pak Budi tersenyum. "Menarik. Anda belajar dari mana?"

"Dari internet, Pak. Saya baca-baca tentang desa digital di daerah lain, di Jogja, di Malang, di Bali. Juga dari pengalaman teman-teman di kota yang kerja di startup."

Pak Surya mencatat sesuatu. "Baik, Arga. Terima kasih. Kami akan umumkan hasilnya minggu depan. Ada yang ingin ditanyakan?"

Arga berpikir sejenak. "Tidak, Pak. Saya sudah puas."

"Silakan keluar."

Arga berdiri, mengambil tongkatnya. "Terima kasih, Bapak, Ibu."

Ia berjalan keluar, pintu tertutup di belakangnya.

Di luar, Maya dan Ibu Sri sudah menunggu di lorong.

"Gimana?" tanya Maya cemas.

Arga tersenyum. "Sudah. Tinggal tunggu hasil."

 

Pak Darmo tidak tinggal diam. Ia mendekati Pak Budi di koridor kantor kecamatan. Dengan senyum manis dan amplop tebal, ia mencoba mempengaruhi keputusan. Namun Pak Budi bukan penguji sembarangan. Ia dikenal jujur dan teguh pendirian. Tapi Pak Darmo punya rencana cadangan.

Di luar ruang wawancara, Pak Darmo menunggu dengan sabar. Ia duduk di bangku taman, pura-pura baca koran. Matanya terus mengawasi pintu keluar ruang penguji.

Ketika Pak Budi keluar untuk ke toilet, Pak Darmo segera mendekat.

"Pak Budi, selamat siang," sapa Pak Darmo ramah. Terlalu ramah.

Pak Budi menoleh. Wajahnya datar. "Oh, Pak Darmo. Ada perlu?"

Pak Darmo melihat kiri-kanan, memastikan tidak ada orang. Ia merendahkan suara. "Saya mau bicara sebentar, Pak. Soal peserta tes."

"Tentang?"

"Anak itu, Arga." Pak Darmo menghela napas, pura-pura prihatin. "Saya kenal dia sejak kecil, Pak. Keluarganya tetangga saya. Masa lalunya buruk, Pak. Balap liar, suka bikin onar, terlibat narkoba. Pantaskah dia jadi perangkat desa?"

Pak Budi mengerutkan kening. "Pak Darmo, penilaian kami berdasarkan tes dan wawancara, bukan masa lalu. Sepanjang tidak ada catatan kriminal resmi—"

"Tapi Pak, desa kita butuh orang baik." Potong Pak Darmo cepat. "Bukan mantan preman. Warga juga khawatir. Saya dengar mereka protes."

Pak Budi menatap Pak Darmo tajam. Matanya seperti bisa membaca isi hati. "Pak Darmo, saya tahu maksud Bapak. Bapak ingin keponakan Bapak yang menang. Tapi saya tidak bisa dipengaruhi. Maaf."

Pak Darmo tersenyum, namun matanya dingin. "Pak Budi, saya hanya memberi saran. Terserah Bapak."

Ia pergi meninggalkan Pak Budi yang menggeleng-geleng. Tapi di balik punggungnya, Pak Darmo tersenyum licik.

Gagal di Pak Budi, masih ada penguji lain.

Pak Darmo mendekati Pak Surya saat jam istirahat. Pak Surya sedang makan di kantin. Dengan hati-hati, Pak Darmo duduk di seberangnya.

"Pak Surya, selamat makan."

Pak Surya mengangkat kepala. "Oh, Pak Darmo. Ada apa?"

Pak Darmo tersenyum. "Saya hanya ingin bicara sebentar. Tentang tes tadi."

Pak Surya meletakkan sendoknya. Wajahnya serius. "Tentang?"

"Peserta dari desa saya, Arga." Pak Darmo menghela napas dramatis. "Saya hanya ingin memastikan Bapak tahu latar belakangnya. Dia anak bermasalah, Pak. Saya khawatir kalau dia terpilih, jadi masalah di desa."

Pak Surya diam sejenak. Lalu ia berkata, "Pak Darmo, saya sudah jadi sekretaris kecamatan 15 tahun. Saya bisa menilai sendiri siapa yang pantas dan tidak. Terima kasih masukannya."

Pak Darmo tersenyum kaku. "Tentu, Pak. Saya hanya memberi informasi."

Ia pergi dengan perasaan kesal.

Dua penguji gagal. Tinggal Bu Rina.

Bu Rina lebih sulit didekati. Wanita itu selalu sibuk, selalu dikelilingi orang. Tapi Pak Darmo tidak menyerah. Ia menunggu sampai Bu Rina sendirian di ruang arsip.

"Bu Rina, permisi."

Bu Rina menoleh. "Pak Darmo? Ada apa?"

Pak Darmo masuk, menutup pintu. "Saya mau bicara sebentar, Bu. Soal tes."

Bu Rina menghela napas. Ia sudah menduga ini. "Tentang Arga?"

Pak Darmo terkejut. "Ibu tahu?"

"Pak Darmo, desa itu kecil. Saya sudah dengar Bapak mendekati penguji lain." Bu Rina tersenyum tipis. "Maaf, Pak. Saya tidak bisa dipengaruhi. Arga punya ide bagus, presentasinya bagus. Itu yang kami nilai."

Pak Darmo terdiam. Rencananya gagal total.

"Tapi Bu—"

"Maaf, Pak Darmo." Bu Rina membuka pintu. "Saya harus bekerja."

Pak Darmo keluar dengan wajah merah padam.

Di sisi lain, Maya tidak tinggal diam. Ia mulai bertanya-tanya pada warga, mencari tahu siapa yang menyebarkan fitnah. Dengan bantuan teman-temannya, para pemuda desa yang mendukung Arga, ia berhasil menemukan sumber isu: Joko, yang ngomong di warung kopi.

Maya segera menemui Arga.

"Arga, aku tahu siapa yang nyebarin fitnah! Joko! Suruhan Pak Darmo!"

Arga diam. Amarah kembali muncul di dadanya, namun ditahannya.

"Aku akan lapor polisi!" ancam Maya. "Ini pencemaran nama baik! Bisa dipidana!"

"Jangan, May."

"Kenapa?" Maya hampir menjerit. "Mereka merusak reputasimu! Kamu tahu nggak, beberapa warga jadi ragu sama kamu gara-gara isu itu?"

Arga menggeleng. "May, kalau aku lapor, mereka akan makin benci. Dan perang tidak akan berakhir. Pak Darmo punya pengaruh besar di desa. Kalau aku lawan dengan cara keras, aku bisa kena imbasnya. Masyarakat bisa terbelah."

Maya menghela napas panjang. "Arga, kamu terlalu baik."

"Bukan baik." Arga tersenyum. "Tapi lelah. Lelah bermusuhan, lelah dendam. Aku ingin hidup damai, May. Aku ingin mulai baru. Kalau aku balas dendam, aku akan kembali ke masa lalu."

Maya tersentuh. Ia memeluk Arga. Pelukan hangat yang membuat Arga terkejut, tapi juga nyaman.

"Kamu hebat, Arga. Sungguh."

Arga tersenyum. "Kamu juga, May."

 

Balai desa penuh sesak. Warga datang dari berbagai penjuru, penasaran siapa yang akan terpilih menjadi kasi pemerintahan baru. Ada yang datang sejak pagi, membawa bekal, duduk di kursi-kursi plastik yang disediakan. Anak-anak berlarian di halaman, ibu-ibu mengobrol, bapak-bapak diskusi politik. Arga duduk di barisan depan, tangannya menggenggam tangan Maya erat. Di belakang, Pak Darmo dan Joko duduk dengan wajah tegang. Pak Ahmad, Kepala Desa Bukit Maya, naik ke panggung dengan amplop cokelat di tangan.

Balai desa Bukit Maya penuh sesak. Kursi-kursi plastik yang disediakan tidak cukup, banyak warga yang berdiri di belakang, bahkan sampai ke halaman. Suasana ramai dengan obrolan, tawa, dan bisik-bisik.

Di barisan depan, Arga duduk di antara Maya dan Ibu Sri. Keringat dingin mengalir di pelipisnya, meskipun kipas angin di balai desa berputar kencang. Tangannya menggenggam tangan Maya, tanpa sadar.

"Tenang, Arga," bisik Maya. "Apa pun hasilnya, kita bangga sama kamu."

Ibu Sri mengangguk. "Ibu juga bangga, Nak. Kamu sudah berani mencoba."

Di belakang mereka, Pak Darmo dan Joko duduk dengan wajah tegang. Pak Darmo menyilangkan tangan, wajahnya cemberut. Joko gelisah, jari-jarinya mengetuk-ngetuk paha.

Pak Ahmad, Kepala Desa Bukit Maya, naik ke panggung. Pria 55 tahun dengan rambut putih di pelipis itu membawa amplop cokelat di tangan. Amplop itu seperti magnet, menarik perhatian semua orang.

"Hadirin, warga Desa Bukit Maya yang saya hormati." Suara Pak Ahmad menggema dari pengeras suara. "Hari ini kita akan mengumumkan hasil penjaringan perangkat desa, formasi Kasi Pemerintahan. Seperti biasa, keputusan ini berdasarkan nilai tes tertulis, wawancara, dan komputer peserta."

Semua diam. Anak-anak yang berlarian berhenti, ikut tegang.

Pak Ahmad membuka amplop dengan tenang. Matanya membaca isinya. Wajahnya sedikit berubah, lalu tersenyum.

"Hasil tes penjaringan perangkat desa, formasi Kasi Pemerintahan." Suaranya menggema. "Dengan nilai tertinggi..."

Hening. Seribu persen hening. Jantung Arga berdebar kencang.

"Arga Pratama!"

Suasana pecah.

Ada yang bertepuk tangan, ada yang berteriak, ada yang berbisik-bisik. Maya melompat dari kursinya, memeluk Arga erat-erat. Ibu Sri menangis haru, menutup mulut dengan kedua tangan.

"Arga! Arga! Kamu menang!" teriak Maya.

Arga terdiam. Ia tidak percaya. "Apa?"

"Kamu menang! Nilai tertinggi!"

Pak Darmo terlihat merah padam. Wajahnya seperti tomat busuk. Joko menunduk lesu, pundaknya turun. Ia bahkan tidak berani melihat ke arah Arga.

Arga berdiri. Ia mengambil tongkatnya, berjalan ke panggung dengan langkah pasti meskipun pincang. Setiap langkah disambut tepuk tangan. Warga yang tadinya mengejek, sekarang bertepuk. Warga yang menyebar fitnah, sekarang diam.

Ketika sampai di panggung, Pak Ahmad menjabat tangannya hangat.

"Selamat, Arga. Buktikan bahwa kamu bisa. Buktikan bahwa desa ini bisa maju."

Arga mengangguk. Matanya berkaca-kaca. "Terima kasih, Pak Lurah. Saya tidak akan mengecewakan."

Ia menatap kerumunan, mencari satu wajah. Maya tersenyum dari kejauhan, air mata bahagia mengalir di pipinya. Ibu Sri melambai-lambai, bangga.

Di sudut ruangan, Pak Darmo diam membatu. Joko menarik bajunya.

"Pakde, kita pulang."

Pak Darmo menggeleng. "Tunggu."

Ia berjalan mendekati panggung. Semua tegang. Apa yang akan dilakukan Pak Darmo?

"Arga," katanya. Suaranya lantang.

Arga menoleh. Semua diam, menanti konfrontasi.

Pak Darmo menghela napas panjang. Wajahnya berubah, dari merah padam menjadi... menyerah?

"Selamat," katanya akhirnya. Suaranya serak. "Kamu memang pantas menang."

Semua terkejut. Arga juga.

"Pak Darmo—"

"Aku tahu selama ini aku salah," potong Pak Darmo. "Aku sebarkan fitnah. Aku coba jatuhkan kamu. Tapi kamu buktikan, kamu lebih baik. Aku minta maaf."

Arga diam sejenak. Lalu ia tersenyum.

"Tidak apa, Pak. Saya terima maaf Bapak."

Pak Darmo mengangguk, lalu berbalik dan pergi. Joko mengikutinya, masih dengan wajah lesu.

Tepuk tangan kembali pecah. Kali ini lebih meriah.

 

Hari pertama bekerja, Arga sudah disambut dengan dingin. Pak Darmo, yang masih menjadi perangkat desa senior, menolak bekerja sama. Ia bahkan menyabotase program-program Arga. Namun Arga tidak menyerah. Dengan bantuan Pak Ahmad dan beberapa perangkat muda, ia terus berjuang mewujudkan mimpinya. Namun perlawanan Pak Darmo tidak mudah dihadapi.

Kantor desa Bukit Maya adalah bangunan tua berlantai dua. Catnya kusam, beberapa papan lantai berderak kalau diinjak. Di lantai satu, ruang pelayanan publik yang kumuh dengan tumpukan berkas di mana-mana, di meja, di lemari, bahkan di lantai. Di lantai dua, ruang rapat dan ruang perangkat desa dengan lima meja.

Arga duduk di meja sudut yang diberikan padanya. Meja itu kecil, dekat jendela yang menghadap ke sawah. Di atasnya, komputer tua berdebu menunggu untuk dihidupkan. CPU-nya bunyi berisik, monitornya masih tabung.

Pak Darmo duduk di meja sebelahnya, sengaja memalingkan muka. Ia sibuk dengan berkas-berkas, pura-pura tidak melihat.

"Selamat pagi, Pak Darmo," sapa Arga ramah.

Pak Darmo hanya mendengus. Tidak menoleh.

Arga menghela napas. Ia sudah siap dengan ini. Ia membersihkan debu dari komputernya, menyalakannya. Komputer tua itu berderak keras, kreeeek... ngiiiing..., namun akhirnya hidup. Layar biru Windows 7 muncul, lambat sekali loadingnya.

Hari-hari pertama berat. Setiap kali Arga mengajukan ide, Pak Darmo selalu menolak. Dalam rapat desa, ia selalu menyindir.

"Pak Lurah, program digitalisasi ini buang-buang uang saja," kata Pak Darmo dalam rapat. Ia menyilangkan tangan, wajahnya sinis. "Desa kita ini desa pertanian, bukan desa teknologi. Petani butuh pupuk, butuh bibit, butuh irigasi. Bukan website!"

Arga menjawab tenang. "Pak Darmo, justru petani yang paling butuh teknologi. Informasi cuaca, harga pasar, pupuk bersubsidi, semua bisa diakses online. Mereka bisa jual hasil panen langsung ke pembeli tanpa tengkulak."

"Omong kosong!" bentak Pak Darmo. Ia memukul meja. Brak! "Petani kita butuh pupuk, bukan website! Mereka butuh uang, bukan internet! Program kamu itu cuma gaya-gayaan kota!"

Pak Ahmad yang memimpin rapat mengetuk palu. "Pak Darmo, beri Arga kesempatan. Kita lihat hasilnya nanti."

Pak Darmo mendengus. "Terserah, Pak Lurah. Tapi jangan salahkan saya kalau nanti uang desa habis buat proyek nggak jelas."

Di luar rapat, Pak Darmo terus menghalangi. Ia menyuruh stafnya untuk tidak membantu Arga. "Jangan bantu dia," bisiknya pada para staf. "Biarkan dia gagal sendiri."

Ia bahkan mengancam warga yang mau diajak kerja sama. "Kamu mau bantu anak baru itu?" katanya pada Pak Dullah. "Ingat, saya masih punya pengaruh di desa. Bisa susah nanti kalau kamu cari bantuan."

Namun Arga tidak menyerah. Dengan bantuan Maya dan beberapa pemuda desa yang percaya padanya, ia mulai mengerjakan website. Malam-malam ia habiskan di kantor, belajar coding dari YouTube, merancang tampilan, mengisi konten.

Suatu malam, jam 10 malam, Maya datang membawakan kopi dan pisang goreng. Kantor desa gelap, hanya lampu di meja Arga yang menyala.

"Arga, kamu nggak tidur?" tanyanya. Ia meletakkan bungkusan di meja.

Arga menoleh dari layar komputer. Matanya merah, kantung mata hitam. "Nggak bisa tidur. Lagi asyik ngerjain ini."

Maya duduk di sampingnya. Ia melihat layar penuh kode-kode rumit—HTML, CSS, JavaScript. "Aku nggak ngerti ini," katanya jujur.

Arga tertawa. "Aku juga baru belajar. Tapi seru, May. Rasanya seperti balapan dulu. Menantang. Setiap kali kode error, aku harus cari tahu salahnya di mana. Kayak cari celah di lintasan."

Maya tersenyum. Senang melihat Arga bersemangat lagi. "Kamu udah makan?"

"Belum."

"Nih, bawa pisang goreng. Kopinya juga, biar melek."

Arga mengambil pisang goreng, menggigitnya. "Makasih, May."

Mereka diam sejenak. Suara jangkrik dari sawah masuk melalui jendela.

"May, terima kasih ya," kata Arga tiba-tiba.

"Thanks for what?"

"Untuk semuanya." Arga menatapnya. "Untuk nggak ninggalin aku. Untuk bantu aku belajar. Untuk percaya aku bisa, padahal aku sendiri ragu."

Maya menunduk. Wajahnya memerah di bawah lampu neon. "Arga, aku..."

"Sudah," potong Arga. "Nggak usah jawab. Aku cuma mau bilang, aku bersyukur punya kamu."

Maya tersenyum. Mereka duduk diam, ditemani suara jangkrik dan komputer tua yang berdengung.

 

Tiga bulan kemudian, website desa Bukit Maya launching. Warga datang berbondong-bondong, penasaran. Arga mendemonstrasikan cara mengakses informasi, cara mengurus surat online, cara melihat anggaran desa. Wajah-wajah yang tadinya skeptis mulai berubah. Senyum merekah di mana-mana. Pak Darmo yang datang hanya untuk mencibir, terpaksa mengakui kehebatan Arga. Namun ia belum sepenuhnya menyerah.

Hari peluncuran website desa tiba. Balai desa penuh warga, lebih ramai dari hari pengumuman. Spanduk warna-warni dipasang di pintu masuk bertuliskan "Launching Website Desa Bukit Maya". Snack dan minuman disediakan di meja panjang.

Pak Ahmad membuka acara dengan sambutan singkat.

"Warga sekalian, hari ini kita akan meluncurkan website desa Bukit Maya. Ini karya anak muda kita, Arga Pratama. Dengan website ini, kita berharap pelayanan desa lebih cepat, lebih transparan, lebih baik."

Tepuk tangan riuh. Arga naik ke panggung, sedikit pincang namun percaya diri. Ia memakai batik lengan panjang, pinjaman dari Pak Ahmad dan celana hitam. Rambutnya rapi disisir ke belakang.

"Selamat pagi, Bapak, Ibu, dan saudara-saudara sekalian." Suaranya lantang, mikrofon digenggam erat. "Saya akan demo sebentar, bagaimana cara pakai website ini."

Ia menyalakan proyektor, menampilkan website desa di layar lebar. Tampilannya bersih, dengan dominasi warna hijau (simbol pertanian) dan biru (simbol teknologi). Menu-menu jelas dan mudah dipahami.

"Ini profil desa," jelas Arga, mengklik menu pertama. Data muncul, luas wilayah, jumlah penduduk, batas-batas desa. "Bapak Ibu bisa lihat data desa kita di sini."

"Ini data penduduk." Klik lagi. "Bisa lihat jumlah KK, jumlah laki-laki perempuan, usia produktif."

"Ini pelayanan publik." Klik lagi. "Bapak Ibu bisa lihat persyaratan surat-surat di sini, KTP, KK, surat keterangan domisili. Bahkan nanti bisa download formulir, isi di rumah, tinggal serahkan ke kantor."

Warga mulai berbisik-bisik, kagum. Ada yang melongo, ada yang mengangguk-angguk.

"Ini yang paling penting," lanjut Arga, membuka menu anggaran. "Ini adalah laporan keuangan desa. Semua transparan. Bapak Ibu bisa lihat, uang desa dipakai untuk apa saja, pembangunan jalan, bantuan langsung, kegiatan, dan lain-lain."

Seorang petani paruh baya, Pak Dullah, angkat tangan. "Saya bisa lihat dari rumah?"

"Bisa, Pak." Arga tersenyum. "Lewat handphone. Atau kalau nggak punya handphone, bisa ke balai desa, nanti ada petugas yang bantu."

"Wah, canggih sekali." Pak Dullah menggeleng-geleng takjub.

Ibu-ibu juga antusias. "Kalau mau bikin KTP, nggak perlu antre lama?" tanya Bu Dullah.

"Nggak perlu, Bu. Bisa daftar online, tinggal datang pas foto."

Tawa dan tepuk tangan riuh.

Di sudut ruangan, Pak Darmo berdiri dengan tangan bersedekap. Wajahnya tegang, matanya menyipit. Namun di balik itu, ada kekaguman yang disembunyikan.

Arga menutup presentasinya. "Terima kasih, Bapak Ibu. Website ini untuk kita semua. Mari bersama-sama membangun desa Bukit Maya yang lebih baik."

Tepuk tangan pecah. Maya dan Ibu Sri menangis haru di barisan depan. Beberapa warga menghampiri Arga, bertanya lebih lanjut.

Setelah acara, Pak Ahmad mendekati Arga. "Arga, kamu hebat. Aku bangga padamu. Dari yang saya dengar, Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa tertarik dengan program ini."

Arga tersenyum. "Terima kasih, Pak Lurah. Ini berkat dukungan semua pihak."

Pak Darmo mendekat. Semua tegang, menunggu reaksinya. Apakah ia akan marah? Mengejek? Atau apa?

"Arga." Suaranya berat.

Semua diam.

Pak Darmo menghela napas panjang. "Aku salah."

Semua terkejut. Pak Darmo mengakui kesalahan? Ini kejadian langka.

"Selama ini aku meremehkanmu." Suaranya serak. "Aku pikir anak cacat tidak bisa apa-apa. Aku pikir kamu cuma sampah. Tapi kamu buktikan, aku yang salah."

Arga diam. Ia tidak menyangka.

"Maafkan saya, Arga." Pak Darmo menunduk. "Dan kalau boleh, saya mau ikut membantu. Program ini bagus untuk desa. Saya mau jadi bagian dari kemajuan."

Arga tersenyum. Ia menjabat tangan Pak Darmo.

"Terima kasih, Pak. Saya terima bantuan Bapak dengan senang hati."

Semua yang menyaksikan bertepuk tangan. Damai telah tercapai.

 

Suatu sore, Arga duduk di tepi sawah bersama Maya. Langit memerah, matahari perlahan tenggelam di balik cakrawala. Dua tahun telah berlalu sejak kecelakaan. Kaki Arga masih pincang, namun ia tidak lagi membutuhkan tongkat. Ia sudah menjadi kasi pemerintahan yang dihormati, bahkan sering diundang ke seminar-seminar. Desa Bukit Maya terkenal sebagai desa digital. Dan di sampingnya, Maya, sahabat yang tak pernah pergi, duduk dengan senyum manis.

Sore itu, langit memerah jingga. Matahari perlahan turun di ufuk barat, menyisakan warna-warna indah di cakrawala. Sawah menguning, siap panen. Angin sepoi membawa bau padi yang khas.

Arga duduk di pematang sawah, kaki diulurkan ke depan. Ia sudah tidak memakai tongkat lagi, kaki kanannya masih pincang, tapi sudah cukup kuat untuk berjalan tanpa bantuan. Fisioterapi rutin dan semangat hidup baru membuatnya pulih lebih cepat dari perkiraan dokter.

Di sampingnya, Maya duduk dengan gaun sederhana warna biru. Rambutnya diurai, sebahu, diterbangkan angin sore. Ia tersenyum memandang cakrawala.

"May," kata Arga pelan.

"Hm?" Maya menoleh.

Arga menatap langit senja. "Ingat waktu itu, kamu bilang matahari bersembunyi di balik cakrawala?"

Maya mengangguk. Teringat percakapan mereka dua tahun lalu, saat Arga baru pulang, putus asa, hancur.

"Sekarang aku mengerti." Arga tersenyum. "Ketika aku jatuh, gelap sekali. Semua pergi. Teman-teman Shadow Riders mulai jarang menghubungi. Dinda pergi. Dunia seolah runtuh."

Maya diam, mendengarkan.

"Tapi kamu tetap di sini." Arga menatap Maya. "Kamu nggak pergi. Kamu nggak jijik lihat aku pakai tongkat. Kamu nggak malu duduk sama orang cacat."

Maya tersenyum. "Karena aku sahabatmu."

Arga menoleh. "Hanya sahabat?"

Maya terdiam. Jantungnya berdebar kencang. Wajahnya memerah, lebih merah dari langit senja.

Arga menggenggam tangan Maya. Tangannya gemetar, tapi genggamannya mantap.

"May, dua tahun ini aku sadar sesuatu." Suaranya bergetar. "Ketika semua orang pergi, kamu tetap di sini. Ketika aku putus asa, kamu bangkitkan aku. Ketika aku jatuh, kamu yang bantu berdiri. Kamu nggak pernah minta apa-apa. Kamu cuma... ada."

Maya menunduk, air mata menggenang di pelupuk matanya.

"Aku mungkin pincang, May." Arga melanjutkan. "Tapi jika kamu mau... aku ingin berjalan bersamamu seumur hidupku."

Maya menangis. Air matanya jatuh, membasahi pipi. Ia tak mampu berkata-kata.

"May?" Arga cemas. "Maaf kalau aku terlalu cepat—"

"Arga, diamlah." Maya tertawa di sela tangis. "Diam dulu."

Arga diam.

Maya memegang wajah Arga dengan kedua tangannya. Matanya merah, basah, tapi berbinar.

"Aku sudah menunggu kata-kata itu sejak kecil."

Arga terbelalak. "Sejak kecil?"

Maya mengangguk, tersenyum. "Ingat waktu SD, kamu selalu bela aku dari anak nakal? Sejak itu aku suka kamu. Aku suka cara kamu tersenyum, cara kamu marah, cara kamu ngejek aku kalau aku jatuh."

Arga tak percaya. "Selama ini...?"

"Selama ini aku tunggu." Maya mengusap air matanya. "Aku tunggu kamu sadar. Tapi kamu sibuk dengan duniamu. Balapan, Dinda, kota. Aku hanya bisa menonton dari jauh."

"May..."

"Aku tunggu kamu bertahun-tahun." Suara Maya bergetar. "Aku tunggu sampai kamu jatuh. Bukan karena aku senang kamu menderita. Tapi karena aku tahu, hanya dengan jatuh kamu akan sadar bahwa aku ada di sini. Bahwa aku nggak pernah pergi."

Arga memeluk Maya erat. Sangat erat.

"Maaf, May. Maaf aku baru sadar sekarang." Suaranya tercekat. "Maaf aku buta selama ini. Maaf aku bikin kamu nunggu lama."

Maya menggeleng di pelukannya. "Nggak apa. Yang penting kita bersama sekarang."

Arga melepas pelukan, menatap mata Maya dalam-dalam. Langit senja memantul di bola mata Maya, membuatnya tampak bercahaya.

"Maya Sari." Suaranya mantap. "Maukah kamu menjadi pendamping hidupku? Menjadi istriku?"

Maya tersenyum, air mata masih mengalir.

"Mau, Arga Pratama. Aku mau."

Mereka berpelukan lagi, di bawah langit senja yang memerah. Matahari perlahan tenggelam di balik cakrawala, namun hati mereka terang benderang.

 

Lima tahun kemudian, Desa Bukit Maya telah berubah. Website desa berkembang menjadi platform digital lengkap, bukan hanya informasi, tapi juga marketplace untuk produk pertanian, forum warga, bahkan layanan konsultasi online dengan petugas desa. Pelayanan publik cepat dan transparan. Petani menjual hasil panen langsung ke konsumen tanpa tengkulak. Pemuda-pemuda desa belajar coding di balai desa setiap akhir pekan. Dan di tengah semua itu, Arga Pratama duduk di beranda rumahnya, memandangi sawah yang menghijau. Di sampingnya, Maya sedang menyusui bayi mereka yang baru lahir. Arga tersenyum. Hidup memang penuh kejutan.

Arga menimang bayinya yang tertidur pulas di gendongan. Bocah laki-laki dengan mata bulat seperti Maya, hidung mancung seperti Arga. Kulitnya kuning langsat, rambutnya tipis hitam.

"Kita kasih nama apa, May?" tanyanya. Suaranya lembut, takut membangunkan si kecil.

Maya berpikir. Matanya menerawang ke luar jendela, ke arah cakrawala yang mulai jingga.

"Bagaimana kalau... Cakrawala?"

Arga mengernyit. "Cakrawala? Berat banget namanya. Nanti diejek teman-temannya."

"Biarlah." Maya tersenyum. "Supaya dia ingat, di balik setiap cakrawala, selalu ada matahari yang menunggu terbit. Supaya dia nggak pernah putus asa, seperti ayahnya dulu."

Arga merenung. Kata-kata Maya selalu dalam, selalu bermakna.

"Cakrawala Pratama," gumamnya, mencoba merasakan. "Cakra. Panggilannya Cakra."

Maya mengangguk setuju. "Cakra. Cocok. Keren."

Mereka diam, memandangi anak mereka. Cakra menguap kecil dalam tidurnya, lucu sekali.

Di luar, matahari sore mulai tenggelam di balik cakrawala. Langit memerah, jingga, ungu, lukisan alam yang sempurna. Namun mereka tak lagi takut gelap. Karena mereka tahu, setelah malam, matahari akan terbit lagi. Selalu.

Arga berjalan ke tepi sawah, sendirian. Maya tinggal di rumah bersama Cakra yang tertidur. Ia memandangi hamparan hijau yang membentang, sawah-sawah yang kini dikelola dengan lebih baik berkat teknologi. Di kejauhan, beberapa petani masih bekerja, memanen padi. Mereka melambai padanya, dan ia membalas.

"Terima kasih, Tuhan," bisiknya. "Terima kasih sudah menghancurkan aku."

Ia tersenyum sendiri. Kedengarannya aneh, namun itulah kebenaran. Jika tidak hancur, ia tidak akan pernah pulang. Jika tidak pulang, ia tidak akan pernah bertemu Maya lagi. Jika tidak bertemu Maya, ia tidak akan pernah menjadi dirinya yang sekarang, kasi pemerintahan yang dihormati, suami yang baik, ayah yang penyayang.

"Arga!"

Suara Maya memanggil dari kejauhan. Arga menoleh. Istrinya melambai dari beranda, menggendong Cakra yang sudah bangun dan menangis.

"hari sudah sore!"

Arga tersenyum. Ia berjalan pulang, pincang namun bahagia. Langkahnya mantap, hatinya ringan.

Di balik cakrawala, matahari bersembunyi. Namun di hatinya, matahari telah terbit dan tak akan pernah tenggelam lagi.

TAMAT

 

Beri Komentar

Komentar Facebook

layananmandiri

Hubungi Aparatur Desa
Untuk mendapatkan PIN

Statistik Penduduk

Desa Sriwidadi

294 LAKI-LAKI

291 PEREMPUAN

Total

585

Orang/Jiwa

Pendidikan

Wilayah

Agama

Usia/Umur

Pemilih

Perkawinan

Pekerjaan

VIDIO
Profil Desa Sriwidadi
Menu Kategori
Agenda
Arsip Artikel
Sinergi Program
Komentar
Media Sosial
Statistik Pengunjung
Jam Kerja

MEDIA SOSIAL
Desa Sriwidadi, Kecamatan Mantangai, Kabupaten Kapuas - Kalimantan Tengah

Hari ini:102
Kemarin:528
Total:230.017
Sistem Operasi:Unknown Platform
IP Address:216.73.216.102
Browser:Mozilla 5.0
Hari Mulai Selesai
Jumat 08:00:00 15:00:00
Kamis 08:00:00 16:00:00
Minggu Libur
Rabu 08:00:00 16:00:00
Sabtu Libur
Selasa 08:00:00 16:00:00
Senin 08:00:00 16:00:00
Peta Lokasi Kantor
Peta Wilayah Desa

Transparansi APBD Desa

APBDes 2026 Pelaksanaan

APBDes 2026 Pendapatan

APBDes 2026 Pembelanjaan